Friday, 7 December 2012

Coretan ngawur, ga usah dibaca!

Sudah lebih dari 6 bulan merasakan hal ini. Lelah, bete, mood jelek mulu, males, sedih. Hari ini, semua itu terasa berlipat ganda. Ingin menangis rasanya, andai di sekeliling tak banyak anak-anak itu.
Sering saya berfikir, saya merasakan begini ini karena saya sangat kurang bersyukur. Di luar sana banyak orang yang menginginkan pekerjaan seperti ini, orang-orang sekitar saya pun sering mengatakan bahwa ini adalah  pekerjaan terbaik, untuk perempuan. 
Saat ini saya adalah PENGAJAR, ya, PENGAJAR, bukan GURU. Tak pernah terbayang saya akan menjadi seorang guru. Bahkan, ketika jaman SD ditanya cita-cita mau jadi apa, di antara sekian banyak cita-cita saya yang sering berubah-ubah, tak pernah terlintas menjadi GURU. Semua orang tau, katanya menjadi seorang guru itu pekerjaan yang sangat mulia, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, benarkah?
Saya senang mengajar memang. mengajar. Sebatas transfer ilmu, berbagi yang saya tahu dan saya bisa. Sementara GURU, saya sama sekali tidak berminat. Menjadi GURU, yang diguGu dan ditiRU, rasanya saya tidak mempunyai kemampuan di sana, mungkin tepatnya tidak memiliki keinginan. Lantas mengapa sekarang saya ada di sini?
Sebelum ke sini, sebelum lulus kuliah bahkan, saya pernah beberapa kali menjadi asisten di 2 Lab di prodi, saya juga pernah menjadi tutor di sebuah bimbel khusus untuk mahasiswa TPB, sambil sesekali mengajar privat siswa SMA. Kemudian saya menjadi tutor juga di sebuah bimbel ternama untuk SMA. Semua itu saya jalani di sela-sela kuliah, di sela kesibukan praktikum dan membuat laporan, di tengah ke-riweuh-an membuat paper atau mempersiapkan presentasi. Atau sering kali saya ikut ke lapangan, survey-survey, ambil data akuisisi. Kadang ikut mengolah data sampai menginterpretasi. Lelah iya, namanya di lapangan ya. Apalagi jika ga pake tenaga lokal, pasti ikut bantu bawa alat juga (walopun dapetnya yang ringan-ringan aja sih). Alhamdulillah. Ketika itu saya tak mengeluh, padahal hasil yang diperoleh  lebih kecil -jika dibandingkan sekarang-.
Ketika selesai sidang dan dinyatakan lulus -dan masih harus nunggu 4 bulan untuk wisuda dan dapat ijazah - sampe lah saya ke sini. Sambil nunggu ijazah, lumayan lah daripada nganggur ga jelas. Awal masuk sini, bukan sebagai tutor apalagi GURU, tapi litbang. SK pengangkatan karyawan yang saya peroleh pun SK litbang. Kemudian diterjunkan menjadi tutor. Alhamdulillah, masih menikmati. Sampai pas taun ajaran baru tahun lalu mulai lah masuk ke sekolah. 
Nah, di sini penderitaan saya dimulai. OK tidak ada masalah berarti ketika saya harus mengajar di kelas, karena pada dasarnya saya memang senang berbagi ilmu. Tapi ketika harus melakukan kewajiban lain, whuaaaaaaaaaa, rasanya berat sekali. Jika hanya sebatas memberikan latihan, PR, tugas, ataul ulangan, kemudian memeriksa dan menilai, its ok, saya masih bisa. Tapi ketika berkaitan dengan administrasi pembelajaran, wew, saya yang buta sama sekali tentang hal ini ya ogah lah. Background saya yang BUKAN dari pendidikan membuat saya bengong begitu ngomongin maslah silabus, RPP, program tahunan, program semester dan entah apalagi lah itu. Sebenarnya jika mau belajar, tentulah saya bisa mengerjakan hal-hal itu. Tapi jangankan mempelajari, mendengarnya pun sudah membuat saya eneg setengah mati. Saya lebih memilih membuat pembahasan ratusan soal UN dan SNMPTN, atau megerjakan soal turunan dan intergral lipat, atau mengolah data self potential berhari-hari, atau menginterpretasi data seismik, atau melakukan akuisisi di lapangan dan lain sebagainya yang saya anggap jauuuuh lebih menyenangkan dibanding segala macam administrasi pembelajaran itu.Selain itu, mendidik siswa juga ternyata sama sekali tidak mengasyikan. Di tambah lagi, sekolah yang memang menangani anak per-individu ini membuat tambah tidak betah. Sesekali asyik memang, tapi jika harus setiap hari rapat untuk membahas masalah anak, ih, ogah. Memperhatikan anak satu persatu, mulai dari kehadiran, kedisiplinan, masalah akademik, sikap,  kesehatan bahkan sampai masalah keluarganya. Berkomunikasi dengan orang tua tiada henti, dan lain-lain. Belum lagi waktu libur yang sangat jarang. Sabtu masuk, tidak ada hari ke jepit, kalaupun siswa sedang libur semester, lah kita harus tetap masuk koq, mengerjakan ini itu yang kadang ga jelas juga. :(
Ok, ada yang bilang, resiko kamu lah, kamu sekarang ada disini, ya harus mau mengerjakan itu semua. hueeek. Saya lebih memilih mundur dan mencari pekerjaan lain. Masalahnya, saya terlanjur menandatangani kontrak kerja selama 3 tahun, dan saat ini, saya baru menjalani 21 bulan. Masih lama. 
Nah, masalah kontrak ini pula, sebenarnya saya sendiri ga yakin dengan kekuatan hukum kontrak itu. Telah banyak poin-poin yang dilanggar oleh pihak mereka, dan akhirnya saya pun ikut melanggar. Sama-sama sudah tidak sesuai kontrak sebenarnya. Di mulai dari jam kerja, di kontrak tercantum bahwa jam kerja saya adalah 7 jam> di awal, sebelum masuk ke sekolah, ketika saya -dan teman2 senasib- masih memiliki ruangan yang kami sebut akuarium, jam kerja itu memang benar 7 jam. Masuk jam 6.30 dan keluar 13.30. Sekarang, aturannya jam kerja itu 8 jam, masuk 6.30 sampe 14.30 kecuali hari sabtu hanya sampe jam 12. Dan hanya dikasih pemberitahuan, tanpa perubahan kontrak kerja.
Selanjutnya adalah masalah gaji. Di kontrak, gaji pokok kami adalah sekian, dengan catatan jika jam kerja tidak sesuai maka gajipun disesuaikan. Di awal masa kerja, ini tepat. Gaji saya dibayar sekian. Oh ya, setiap hari kami mendapat jatah makan siang. Alhamdulillah. Makanan lengkap gizi seimbang dengan porsi cukup, sampai suatu hari makan siang ini jadi "diuangkan". Ok, jadi saya terima gaji "sekian + uangmakan". Kalo ada lembur berarti + uang lembur. Ketika pekerjaan bertambah, jadi walikelas misalnya, maka  gaji saya pun bertambah uang walikelas. Jumlah totalnya lumayan lah. Jauh dengan gaji guru honor di kampung saya sana yang hanya sekian ratus ribu saja. Untuk saya cukup. Walaupun tentu masih jauuh di bawah gaji teman-teman sejurusan (se-lab terutama) yang bekerja di bidangnya :(. Saya lupa mulai kapan, yang pasti sampai sekarang, rincian gaji berubah. Di slip itu ada rincian sebagai berikut : gaji pokok, tunjangan fungsional, tunjangan keluarga, tunjangan pengabdian, uang makan, uang transport, uang walikelas, dan banyak entah apalagi. Ok ga masalah, lebih rinci lebih bagus. Tapi, di sana gaji pokok saya tidak lagi sekian, tapi jadi jauh lebih kecil. Memang ada tambahan tunjangan ini itu, tapi koq ya, kalau ditotal jumlahnya jadi berkurang. Padahal tidak ada pengurangan pekerjaan. Ya,saya kehilangan sekian ratus ribu setiap bulan T_T. Saya pernah mempertanyakan hal ini, tapi sampai sekarang  saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan dan bisa diterima logika. 
welwh, jadi curhat ngelantur kemana-mana.
Yah, pokoknya saya udah enegh ah di sini, kalau bisa sih saya ingin kembali jadi geophysicist saja. Ke lapangan buat survey, ambil data kemudian mengolah data berhari-hari bahkan berminggu-minggu,  kemudian interpretasi, menyusun laporan, presentasi hasilnya ke klien, dll. Tapi nampak tidak mungkin, karena saya sedang hamil, alhamdulillah, hehe. Cukup suami saja yang geophisicist. Saya bantu-bantu aja sedikit.
Masa kontrak masih 15 bulan lagi. Mudah-mudahan saya tetap bertahan. Setelah itu, insyaallah saya akan mundur baik-baik. Saya di rumah aja jadi full-time-mother. Jadi kan bisa ngikut kemanapun suami ditugaskan. 




No comments:

Post a Comment