Sunday, 21 June 2015

Curhat : Teman Masa Kecil

Selama 2 minggu liburan di rumah ibu, ada hal yang mengganggu pikiran saya. Ini tentang teman masa kecil saya yang kini 'berubah'. Sebut saja namanya Neng, saat ini usianya 24th ++. Saya kenal saat masih SD. Saya kelas 6, dia kelas 3 saat itu. Aslinya dari Pameungpeuk. Maksud saya ibunya asli Pameungpeuk, ayahnya asli Gadog, sekampung dengan bapak saya. Saat itu dia baru pindah dan merekalah yang membeli rumah orangtua saya. Kami kenalan dan menjadi akrab. Kami sering bermain bersama. Main boneka, sekolah-sekolahan, sondah, megan, bekles, papasakan, botram, ucing sumput, jojogedan dan lain-lain banyak lah permainan anak kampung pokoknya. Suaranya bagus, dia jadi vokalis di grup qasidah anak-anak di madrasah tempat kami ngaji. Dia juga pinter, sering ranking di sekolahnya walau bukan ranking pertama. Ibu saya juga suka sama dia, kalau abis main pasti diberesin lagi, kalau abis makan piringnya langsung dia cuci. Kami masih sering main bersama sampai saya lulus SMP kemudian lanjut sekolah di Bandung. 
Saat saya sudah di Bandung, kami ga ada kontak sama sekali, waktu itu belum musim punya hp kayak sekarang. Kami hanya bertemu sesekali kalau saya lagi libur. Kesininya udah ga pernah ketemu kalaupun saya lagi libur karena ternyata dia melanjutkan SMP di Pameungpeuk. 
Singkat cerita, saya sudah mulai kuliah dan semakin jarang pulang. Suatu hari menjelang ramadhan, saya pulang karena berencana munggahan di rumah ibu. Saya ketemu dia di warung, ternyata dia lagi hamil 8 bulan waktu itu. Kami ngobrol lumayan lama, yang saya inget dia berkata : "Teh, semangatnya kuliah na, sing jujur. Abi mah tos teu tiasa neraskeun. Insyaallah sasasih deui ngalahirkeun. Piduana nya."
Saya ajak ke rumah biar bisa ngobrol banyak, tapi dia menolak. Dia sudah ga pernah lagi ke rumah. Oh ya, sebelumnya saya sudah tau dia sudah menikah dari ibu, ibu nlp waktu itu bilang Neng sudah nikah, tapi ga ngundang karena nikahnya nikah agama saja. 
Kurang lebih setahun kemudian, saya kaget saat mendengar kabar dia sakit dan dirawat di salahsatu rumah sakit jiwa di Bandung. Saya sedih sekaligus penasaran, apa yang terjadi padanya. Saat saya pulang dan ngobrol sm ibu dan beberapa orang, akhirna saya tahu kalau dia sakit setelah melahirkan. Mungkin baby blues yang bercampur postpartum depression. Saat itu saya blm ngerti, saya taunya baby blues aja. 
Waktu berlalu, Alhamdulillah dia dinyatakan sembuh. Anaknya udah hampir 1 tahun lebih kalau ga salah. Dia ikut kursus menjahit di ibu, jadi hampir tiap hari dia ke rumah. Dia banyak ngobrol dengan ibu. Ketika saya pulangpun, dia banyak cerita. Dia sepenuhnya sadar kalau dia pernah dibilang 'sakit'.
Dari cerita-ceritanya, saya tau ternyata ketika awal-awal pernikahannya dia belum mencintai suaminya. Mereka dinikahkan paksa. Saat itu, suaminya datang ke rumahnya untuk main saja, berkenalan dan silaturahmi dengan keluarga Neng. Tapi orangtuanya yang masih 'kolot' itu menganggap kalau ada lelaki berkunjung ke rumah seorang gadis, itu sudah pasti untuk melamar. Jika tidak dinikahkan maka akan jadi aib. Entah bagaimana ceritanya akhirnya mereka dinikahkan saat itu juga dengan mas kawin uang sebesar 10rb rupiah. Jangankan pesta syukuran undang2 teman rekan dll, syukuran kecil-kecilan pun ga ada, makan-makan sekeluarga pun tidak. Mereka menikah tanpa disaksikan keluarga suaminya, hanya ada satu sodara yang saat itu memang mengantar.
Keluarga si lelaki ga terima anaknya dinikahkan paksa begini, tetapi tidak bisa apa-apa karena sudah terjadi. Beberapa hari kemudian Neng dibawa pindah suaminya ke kampung asalnya. Katanya sih penerimaan keluarga suaminya kurang baik. Meski begitu, katanya dia mulai mencintai suaminya dan beberapa bulan kemudian dia mengandung. Saat hamil 7 atau 8 bulan, mereka bercerai. Lagi-lagi dipaksa. Ya, dipaksa cerai oleh orangtuanya Neng karena menganggap ga bisa memberi penghidupan yang layak. Astagfirullah sampai sini saya sedih sekali. Saya mengerti saat-saat hamil besar menjelang melahirkan adalah saat bener-bener butuh suami di sisi. Alhamdulillah dia melahirkan normal, selamat, sehat. Dia bisa menyusui. Tapi rupanya dia kena postpartum depression juga baby blues. Banyak tetangga yang melihat gejala ini tapi orangtuanya nampak kurang peduli. Mereka bilang, ah ini wajar baru melahirkan, nanti juga biasa lagi. Ternyata mereka salah, semakin hari semakin parah dan mulai membahayakan dirinya dan oranglain. Akhirnya dengan bantuan dari desa, Neng bisa dirawat. Setelah dirawat beberapa bulan dia dinyatakan sembuh.
Ceritanya belum selesai di sini. Ternyata dia masih sering kambuh. Paling sering kambuh jika ada tetangga, sodara, atau siapapun yg dia kenal menikah. Termasuk saat menjelang pernikahan saya. Saya dan ibu ga pernah mengusirnya seperti yg lain kalau ada dia ke rumah. Kebanyakan tetangga memperlakukan dia seperti 'orang sakit jiwa' yang berbahaya. Buat saya dia tetap teman saya. Dia selalu mengenali saya walaupun lagi kambuh. 
Suatu hari, saya sudah menikah dan sedang hamil Sina, ga sengaja bertemu dengannya dan dengan lantang dia bilang : "Teh, abi bogoh ka A Rosi. Wios nya." Ga sampai disitu, kalau suami saya ada atau ga sengaja ketemu dimana, dia selalu bilang itu langsung ke suami saya. Di sini saya mulai terganggu. Saya mulai sering tidak membukakan pintu saat dia ke rumah. Aduh maafkan saya.
Beberapa kali saya dapat kabar dia dirawat. Dirawat - sembuh - kambuh - rawat lagi - sembuh - kambuh lagi.
Saat saya liburan kemarin, ibu cerita dia lagi kambuh. Ini yang terparah. Sekarang dia ga betah di rumah, keluyuran, kuat berjalan berpuluh kilometer, teriak-teriak, bicara sendiri, dan dia masih tetap mengenali saya. Menyapa saya, bertanya kabar, kapan datang, dan pertanyaan lainnya layaknya orang 'sehat'. 
Katanya, ibunya sudah menyerah, sudah banyak cara dilakukan. Jika ibunya memperhatikan dia terus menerus, adik-adiknya yang lain tidak terurus. Ayahnya sudah meninggal sekitar 2 tahun lalu. Kini ibunya harus banting tulang sendirian untuk menghidupi 8 orang dan tinggal di rumah yang kurang layak menurut saya.
Andai saya ada rezeki lebih, ingib rasanya membantu. Sejauh ini saya baru bisa ngasih jajan sedikit buat anaknya atau adiknya. 
Tak ada maksud apa-apa saya menuliskan hal ini di sini, ini mengganggu saya beberapa hari ini. Betapa saya selama ini kurang bersyukur. Saya memiliki suami yg baik yang begitu mencintai saya, anak yang lucu dan cerdas yang selalu membuat saya tertawa, orangtua yang bijak, mertua yang baik, rumah yang layak, waktu luang yang banyak, badan yang sehat dan masih banyak lagi nikmat yang Allah berikan yang saya kurang syukuri selama ini. Astagfirullah.
Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

No comments:

Post a Comment