Monday, 14 August 2017

Bicara yang Baik atau Diam

Assalamualaikum.

Alhamdulillah. Setelah memantapkan hati untuk menyibukkan diri dalam rangka menghilangkan perasaan tidak berharga, akhirnya saya yakin bahwa ada hal-hal bermanfaat yang bisa saya lakukan, bisa saya bagikan ke sekitar saya. Saya memberanikan diri menerima beberapa amanah sekaligus dengan harapan agar tak ada lagi waktu yang terbuang percuma, tak ada detik-detik yang saya pakai untuk menyesali diri yang ga bisa memasak ini. Ketika saya sampai pada tahap 'jijik' pada segala hal yang berhubungan dengan masak, saya sadar ada yang salah dalam diri dan harus segera diakhiri. Saya sudah tau pencetus alias penyebabnya maka saya harus fokus pada solusi. Sampai saat ini masih belum ketemu sih solusi yang pas, tapi pengalihan dengan menyibukkan diri lumayan berhasil mengikis sedikit rasa hina dalam diri. Iya, merasa hina karena ga bisa masak. Ga bisa masak enak tepatnya. Dan merembet kemana-mana sampai pada suatu titik saya merasa benar-benar tidak bisa apa-apa. Tidak bisa apa-apa di sini bukan artinya tidak berdaya, tapi apapun yang saya lakukan ya pasti ga benar ga selesai ga bagus, ga bisa apa-apa. 
Duhai, betapa ya, sekalimat menyakitkan yang pernah diucapkan, menghujam ke dalam dada, terbawa ke alam bawah sadar dan berhasil mengubah seorang Fitri yang lagi semangat belajar apapun dalam rumah tangga (memasak salahsatunya), menjadi ciut, merasa hina dan merasa hidupnya ga berguna.
Ya elah Fit, masa gara-gara gitu doang? Kapan-kapan saya ceritakan lebih detail.Yang pasti, ini jadi pengingat buat diri saya pribadi untuk selalu berhati-hati saat memberikan komentar ke orang lain, walaupun sedang bercanda. Apalagi komentar sukarela dalam artian orang tersebut ga minta pendapat kita terus kita tiba-tiba komentar. Hati-hati jangan sampai komentar kita membuat seseorang tersakiti. Komentar yang baik-baik saja atau diam. 
Saya inget jaman saya masih ngajar dulu. Ada salah satu siswa yang ga naik kelas. Saya bukan wali kelasnya tapi saya ngajar di kelas dia. Saat sedang kegiatan belajar-mengajar dalam sesi tanya jawab atau coba selesaikan dia hampir selalu bilang "aku ga bisa bu, aku mah ga bisa" padahal dia belum mencobanya. Dan wajahnya selalu sedih setiap kali bilang "aku ga bisa". Singkat cerita di akhir tahun pelajaran, ketika sidang kenaikan kelas saya baru tahu kenapa dia begitu. Bukan hanya di kelas saya saja ternyata, di kelas lain pun begitu. Pejyebab awalnya adalah ada salah satu guru yang komen "kamu mah moal bisa". Gitu. Saya dulu mikirnya masa sih cuma gara-gara itu. Ternyata setelah dijelasin sama guru BP/BK nya yang memang lulusan psikologi pendidikan, barulah saya paham betapa fatalnya sebuah komentar ketika sudah menyakiti seseorang. Siswa tersebut jelas merasa direndahkan, lah koq aku dibilang ga bisa. Awalnya kepikiran kemudian lama-lama alam bawah sadarnya menerima bahwa itulah kenyataannya. Padahal, mungkin guru yang bersangkutan ga ada niat sama sekali unyuk merendahkan siswanya, hanya saja yang diterima sama siswa tersebut berbeda. Kata guru BP/BK waktu itu, ini juga salah satu alasan kenapa kita hatus bisa melihat seseorang itu tipe yang seperti apa ketika kita akan menyampaikan motivasi. Untuk siswa lain dengan tipe berbeda, kalimat 'kamu ga bisa' ini munhkin justru akan menjadi pemicu semangat agar dia bisa membuktikan bahwa dirinya pasti bisa. Tapi untuk siswa di atas, kalimat itu justru menjadi 'pembunuh'. 
Sekarang saya semakin mengerti apa yang dirasa siswa tersebut setelah saya mengalaminya sendiri. Kalimat 'kamu mah sagala teu bisa' berhasil membuat saya minder, ciut, merasa hina, merasa ga berharga dan bertanya-tanya sebenarnya kenapa saya hidup sampe sekarang jika ternyata saya mah ga bisa apa-apa alias sagala teu bisa. Untungnya saya sudah sadar apa yang terjadi, dan saat ini saya betul-betul berusaha memgembalikan kepercayaan diri saya. Dan sungguh tidak mudah.

Wassalamualaikum.

No comments:

Post a Comment