Tuesday, 15 August 2017

Tentang Marah

Assalamualaikum.
Cibiru dingin sekali pagi ini. Enaknya main ponsel sambil selimutan lagi. Tapi ajaib, pagi ini saya sudah selesai beberes, masak, dan nyuci piring. Saya bilang ajaib ya karena ini kejadian yang jarang sekali. Biasanya jam segini saya lagi riweuh nyiapin sarapan dan bekal sekolah Sina. Beberes dan lain-lain saya tangguhkan sampai nanti siang sepulang sekolah. Tapi merugi kan ya kalau hari ini sama aja kayak hari kemarin-kemarin, bismillah, semoga konsisten. 
Saya agak kepikiran celetukan seorang anak -teman Sina- di sekolah kemarin. Ibu-ibu kan suka ngumpul ya menjelang anak bubaran sekolah, duduk-duduk di teras mesjid sambil ngobrol dan ngemil. Anak-anak yang keluar kelas biasanya langsung mendekati ibu-ibu (atau nenek)nya masing-masing sambil cerita ini ITU. Kebanyakan cerita tentang kegiatan sekolah hari itu. 
Nah, kemarin saya mendengar seorang anak nyeletuk ' Mamah mah ambek-ambekan wae ih. Teu siga Bunda Sina tuh bageur, tara ngambek'. Artinya kurang lebih ' Mamah nih marah-marah aja. Ga kayak Bunda Sina, baik hati dan ga pernah marah.' Ibunya menjawab 'ya wajar we ngambek da kamu na siga kieu, coba mun bageur siga Sina pasti moal diambekan was.'.
Saya senyum-senyum pahit mendengarnya. Ah, pencitraan saya berhasil. He he. . mereka ga tau aja kalau sebenarnya saya juga termasuk ibu yang sering marahin anaknya beberapa waktu lalu. Sampai saat ini masih sih, tapi insyaallah saya sedikit bisa mengontrol rasa marah saya. 
Saya membaca ulang bukunya Bunda Wening tentang 'Marah yang bijak'. Boleh koq kita marah, tapi bagaimana cara kita marah itu yang harus diperhatikan.
Marah itu kan sebenarnya emosi dasar manusia ya, sama halnya seperti gembira, takut, sedih, jijik dan terkejut.* Kita biasanya marah sebagai respon atas perilaku anak yang tidak kita sukai atau kita anggap tidak baik. Sayangnya bagaimana kita menyampaikan rasa marah itu akan memberikan dampak secara psikologis kepada anak. Dampak baik atau buruk, bergantung bagaimana cara marah kita. Dampak buruknya anak menjadi kurang empatik, mudah depresi, dan sulit beradaptasi dengan dunia luar. Dampak lainnya, anak meniru perilaku marah, pemurung/tidak ceria, cenderung menutup diri dari lingkungan dan memberontak.
Marah yang tidak terkendali sebenarnya tidak ada gunanya. Apakah setelah marah-marah dapat mengubah perilaku anak menjadi seperti yang kita harapkan? Yang terjadi malah kita mempermalukan diri sendiri dan anak, dan tanpa kita sadari kita sedang 'menularkan' kemampuan marah kita kepada anak.
Marah selama ini dipahami sebagai suara yang keras, membentak, kalimat yang kasar, mata melotot, kedua tangan di pinggang, cubitan, pukulan dan lain-lain. Padahal ada cara lain bagaimana menyampaikan 'marah' kepada anak. Ini terkait dengan apa sebenarnya tujuan kita marah. Biasanya sih tujuannya supaya anak nurut, tidal mengulangi perbuatannya dan yang semacamnya. Kalau kita cross chek, apa tujuan kita berhasil? Biasanya tidak..
Bersambung ya, mau siap-siap ke sekolah Sina dulu...
Wassalamualaikum

No comments:

Post a Comment