Friday, 25 August 2017

Vaksin...oh...vaksin...

Assalamualaikum.

Postingan kali ini mengandung curhat dan...ghibah. Sebaiknya tidak dibaca.
Hayati lelah, Bang. Sungguh.
Iya saya lelah sebenarnya dengan perdebatan para provaksin dengan antivaksin. Lebih dari empat tahun lalu saya galau segalaunya gara-gara perdebatan ini. Bingung apa Sina harus saya vaksinasi atau tidak. Saya banyak baca, dari status-status sosial media, artikel di blog, resume jurnal sampai jurnal lengkap saya baca dan berusaha paham. Saya juga nanya-nanya sih ke banyak orang, ke teman-teman yang memutuskan tidak memvaksin anaknya, ke sodara-sodara yang tetap memvaksin anaknya, sampai ke orang kesehatan yang hanya saya kenal di media sosial. Saya sudah punya keputusan dan jarang mengikuti perdebatan mereka lagi.
Menjelang vaksinasi MR ini, heboh lagi deh tuh yang debat. Saya ga ikutan awalnya, ga pengen baca juga. Tapi ya gara-gara timeline FB saya rame sama hal ini, jadilah saya baca-baca lagi walaupun sebagian cuma sekilas. Dulu saya banyak nge-add friend orang-orang yang saya pikir paham tentang vaksin, baik dari kubu provaks maupun antivaks. Nah, sekarang pada muncul lagi masih dengan perdebatan yang sama. Otomatis timeline saya jadi terisi sama dua kubu itu ya, gerah euy, akhirnya memutuskan tidak membuka fb sementara. Aman dan damai.
Tapiii... Seorang sahabat  cerita kalau ada seseteteh ITBMh yang lagi semangat menggebu-gebu ngeshare berbagai artikel dari sisi antivaksin dan jadi omongan yang lain karena dianggap jauh dari adab seorang 'scientist'. Nah saya penasaran karena orangnya saya kenal walau belum pernah bertemu langsung, pernah ada beberapa urusan muamalah dengannya. Buka lagi deh itu fb. Dan ternyata saya ketinggalan banyaaak.
Mulai lagi deh saya baca-baca timeline yang kebanyakan teman facebook saya dari ITBMh. Lumayan kaget juga baca yang debat lumayan sengit dan keukeuh sureukeuh padahal sudah dikasih data ini itu yang sumbernya bukan dari blog semata. Iya, dulu kami ga boleh ambil referensi dari wikipedia soooo ambil dari blog juga sama ga tepatnya. Udah dikasih referensi jurnal, grafik data, DSB, eh berlanjut minta dijelasin itu kurva normal diambil dimana kapan juga tentang populasi dan sampelnya he he.
Kemarin ini lebih kaget lagi karena Teteh ini mengambil sebagian tulisan dr.Apin di republika. Sayangnya, yang dikutip cuma sebagian sampai dr.Apin pun membuat status lengkap dengan screenshoot postingan si Teteh.
Saya cek ke group masih aman, Alhamdulillah, karena ini ramenya di status pribadi. Seorang Teteh R yang lain yang rupanya sama gemesnya dengan saya, membuat status tentang kekesalannya sama Teteh di atas yang jelas-jelas profile picture nya pake toga wisuda kampus. Saya juga pengen bilang hal yang sama tapi saya tidak seberani Teteh R. Please atuh lah itu profil picture nya ganti dulu biar ga terlalu bikin gerah teman-teman sesama alumni. Mana ada wacana group alumni mau minta maaf sama dr.Apin. Lah yang buat kan Teteh itu pribadi, kenapa yang minta maap harus group alumni. Sampai akhirnya Bu Ketua turun tangan. Nah, saya selalu merasa suatu hal udah cukup gawat kalau Teh P mulai turun tangan. Saya copy di sini ah..
Berat ancaman al Qur'an untuk para penyebar berita yang tidak benar. Termasuk di dalamnya pemutar balikan fakta, perilaku mencomot sebagian referensi untuk mendukung pendapat pribadi, tanpa memahami secara utuh sumber referensi tersebut."Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musiba kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Jangankan tulisan manusia, ayat al Qur'an saja bisa diperlakukan seperti ini. Banyak orang mengambil bagian ayat, menyambungnya dengan ayat lain, untuk memberi kesan benar pada pendapatnya sendiri.Perilaku seperti ini termasuk cacat literatur, menjadi akibat atas lemahnya budaya membaca dan memahami literatur.
Bagi anda yang membutuhkan informasi, apapun, selalu bertabayun dengan merujuk langsung sumber aslinya sebagai referensi. Termasuk jika anda membutuhkan tulisan dr Arifianto ini, langsung saja menuju wall yang bersngkutan, JANGAN nyangkut di postingan yang tidak relevan.
Sedihnya, saya melihat Teteh ini tidak ada rasa bersalah ya, karena di postingan dia selanjutnya, bukannya meminta maaf kepada dr.Apin malah menyatakan dr.Apin adalah seorang bapak-bapak baperan. Tidak disebut sih itu ditujukan ke dr.Apin, tapi ya semua juga tau kali setelah baca postingannya. Sedihnya, dan maluu juga.
Ya Allah, segitu nya ya gara-gara vaksin. Saya sebenarnya nulis ini karena temen di grup SMA yang bawa satu artikel ke grup, mau komen ga jadi jadi, jadi mau curhat di sini. Alhamdulillah grup SMA mah tetap adem da ga ada debat, bisa saling menahan diri dari komen vaksin ini. Yang heboh malah teman-teman kampus gara-gara satu Teteh itu. Saya juga malah jadi ngomongin ini kan di sini. Sedih aja sih, gegara masalah vaksin ini sampe segitunyaa. Sebenarnya saya pribadi ga ada masalah sih seseorang itu mau provaksin atau antivaksin. Masing-masing orangtua bebas mengambil keputusan untuk anak-anaknya. Keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan tentunya. Kampanye juga boleh, mangga, tapiiii, cara menyampaikan itu yang bermasalah menurut saya. Beneran ya kelihatan pentingnya ADAB sebelum ILMU.
Sudah ah, nanti malah ghibah terus. Astagfirullah.

Wassalamualaikum

2 comments:

  1. Dan si teteh itu makin lama makin berulah dengan analisis2 ngawurnya. Tulisannya terlihat meyakinkan karna disertai dengan link2 jurnal, tapi setelah saya konfirmasi ke dokter, tulisan itu ngawur ceunah 😅

    Would somebody tell her to stop?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia Teh. Udah banyak yang bilang kayaknya, tapi ya belum mau berhenti dia. Alhamdulillah udah ga serame kemaren ya. sekarang Teteh itu lagi ngeramein hal lain, heu.
      Btw, makasih udah mampir ksini, salam kenal :)

      Delete