Monday, 5 March 2018

Sina (sepertinya akan) Berhenti Sekolah

Assalamualaikum.
Sudah hampir sebulan Sina "mogok" sekolah. Sebelumnya Sina masih sekolah tapi hanya di hari selasa dan kamis saja, senin-rabu-jumat sudah mulai males. Sekarang, jadi setiap hari. Setiap pagi masih saya ajak hayu sekolah, jawabannya semakin mantap: ga mau. Saat saya tanya, inilah jawaban-jawaban Sina
''Bosen, mainnya ga ada yang baru di sekolah 
''Sina ga mau baca pagi-pagi. 
''Sina mau libur terus kayak arka. 
''Sina ga mau ah, Sina maunya hari kamis aja pas olahraga. 
''Sina mau di rumah aja sama Bun.
''Sina mau sekolahnya yang dekat alun-alun yang waktu itu sama Dzakwan
Dan ada beberapa lagi dengan nada yang hampir sama.
Saya dan suami sama sekali tidak memaksakan, jika memang ga mau, ya sudah. Kami mengingat kembali alasan awal mengapa kami akhirnya memasukkan Sina ke sekolah. Karena Sina memang mau. Maka jika sekarang Sina jadi ga mau, ya sudah, tak perlu dipaksa apalagi dengan segala drama.
Saya sendiri pun sebenarnya setuju dengan Sina, hehe. Ada beberapa alasan,
1. Di awal kehamilan, saya sering sekali mual dan pusing di jam-jam Sina siap-siap dan berangkat sekolah. Jadi kadang Sina ga masuk sekolah jika tidak ada yang bisa menggantikan tugas saya. Nuhun ya Sinaa :)
2. Di awal masuk sekolah, saya cukup mengapresiasi kebijakan sekolah yang belum mengajarkan baca tulis untuk kelas kecil. Ada, tapi masuk di kegiatan ekstra di jam sebelum sekolah, bukan masuk jam sekolah. Sina sengaja tidak saya ikutkan, saya masih berprinsip sebelum usia 7 tahun biarlah Sina ga dulu belajar baca-tulis dengan serius kecuali Sina yang meminta. Sina sudah mengenal huruf, bisa menggabungkan satu dua huruf konsonan-vokal. Biarlah Sina belajar baca dengan kemauan dan caranya sendiri. Tapii, saat masuk semester kedua, sepertinya kegiatan belajar baca sebelum mulai sekolah menjadi 'seperti wajib'. Saya beberapa kali diingatkan untuk datang lebih pagi agar Sina bisa mengikuti kegiatan belajar baca dulu. Saya mulai males di sini.
3. Lingkungan. Bukan lingkungan sekolahnya yang saya maksud. Kalau lingkungan sekolah ga ada masalah, sangat bagus malah. Tapi teman-teman Sina dan para orangtuanya. Tidak ada yang jelek, hanya saja kebanyakan memiliki pola pikir, cara didik dan asuh yang berbeda dengan kami. Saya sudah menyadari ini sejak awal sih, saya kira tak masalah karena memang tak ada pengaruh signifikan untuk Sina. Tapi yang terpengaruh adalah saya. Lebih sulit menjaga hati. Aduh saya ga bisa cerita detailnya.
Saya lega, saya telah melepas amanah saya sebagai ketua POM jauh sebelum Sina "mogok" sekolah. Sampai saat ini saya belum pamit dan bilang Sina berhenti sekolah. Saya hanya bilang Sina masih "mogok" saja. Jika suatu hari Sina mau sekolah, hayu. 
Saya tidak terpikir untuk memindahkan Sina ke sekolah lain. Saya justru belajar lagi, baca-baca lagi tentang sekolah usia dini. Dan sepertinya berhenti sekolah untuk saat ini adalah yang paling baik untuk kami, untuk Sina dan saya. Saya masih tetap memasukkan antar-jemput Sina  di jadwal aktifitas keseharian saya. Saya memang ada tambahan tugas, menyiapkan kegiatan seru di jam sekolah Sina, bedanya kali ini tempatnya di rumah dan sekitarnya. Tapi ini justru memudahkan saya karena lebih mudah mengontrol dan lebih fleksibel baik jenis kegiatan maupun waktunya.
Saya juga semakin mantap setelah membaca satu inspiring article di buku FBE. Judulnya "Apa yang dicari para pemburu sekolah". Ada lima pertanyaan mendasar jika kita memasukkan anak ke suatu sekolah 
  1. Apakah sains atau akademik yang diberikan sekolah lebih baik?
  2. Apakah sosialisasi yang diberikan sekolah lebih baik?
  3. Apakah sekolah bertanggungjawab terhadap perilaku dan akhlak anak-anak kita?
  4. Apakah bakat dan potensi keunikan anak-anak kita dikembangkan di sekolah?
  5. Apakah perjenjangan persekolahan menjamin fitrah perkembangan anak-anak kita?
Ternyata, sesungguhnya, yang terpenting bagi kita sebagai orangtua adalah bagaimana fitrah belajar anak-anak kita terus ditemani dan diinspirasi sehingga tumbuh subur dan paripurna, bagaimana menumbuhkan fitrah sosialnya  yang justru harus dengan melibatkannya secara langsung dalam  realitas sosial, bagaimana menghadirkan sosok teladan yang sholeh pribadi & sholeh sosial pada anak, bagaimana menemani dan memfasilitasi fitrah bakat anak dengan memberikan beragam wawasan & aktifitas, serta bagaimana memastikan bahwa fitrah perkembangan anak-anak berjalan sesuai sunatullah dimana baligh dan aqil harus tiba bersamaan.
Demikian catatan hati pagi hari, Cipadung masih mendung setelah diguyur hujan sejak subuh tadi. Mari siap-siap kembali bekerja dan belajar. 
Wassalamualaikum.


No comments:

Post a Comment