Pages

Friday, 28 February 2025

Random Post : Cantengan

Assalamualaikum.

Diantara semua topik yang pernah ku tuliskan di sini, topik ini sepertinya yang paling random. Tentang cantengan. Ada yang belum tau cantengan? Kalau menurut alodokter, cantengan adalah tumbuhnya salah satu sisi kuku atau ujung kuku ke dalam daging di area kuku. Kondisi ini ditandai dengan nyeri, bengkak, dan kemerahan di area kuku yang mengalami cantengan. Bahasa kerennya adalah ingrowing nail. Aku sudah pernah mengalaminya beberapa kali di jempol kaki, tapi yang kualami kemarin sungguh berbeda dari biasanya.

Beberapa hari sebelumnya jempol kaki kiriku mulai terasa sakit. Aku sudah tahu ini menjelang cantengan. Aku bergegas mengambil gunting kuku dan berniat segera memotong bagian kuku yang menusuk kulit. Saat hendak menggunting kuku tersebut, ternyata aku kesulitan, kuku yang menusuk dan mulai terasa sakit itu ternyata di bagian pojok kanan bawah jempol kaki kiri. Kebayang ga? Jika biasanya yang menusuk itu ujung kuku bagian atas, ini bagian bawah sehingga cukup sulit saat akan dipotong. Aku biarkan saja, berharap nanti akan sembuh sendiri    seperti yang sudah sudah. 

Keesokan harinya ternyata semakin sakit. Kulihat jempol kaki kiriku memerah dan bengkak di sebelah kanan. Sangat sakit apalagi jika tersentuh sesuatu. Bahkan tersentuh sehelai kain pun terasa sakit. Aku sempat menangis dan menjerit kesakitan ketika jempol kaki tersebut tak sengaja tertendang anakku. Bukan tertendang sih, anakku berjalan, dia tersandung kakiku yang sedang selonjoran sambil menonton tv. Aku mulai rajin meneteskan betadine ke sela-sela kuku jempolku, berharap bengkaknya segera hilang dan rasa sakitnya segera pergi. Malamnya, aku terbangun beberapa kali karena merasa nyut-nyutan di jempol kaki. Aku sempat meminum paracetamol, kebetulan aku tak punya sediaan obat anti nyeri lain saat itu. Nyerinya perlahan berkurang dan aku bisa tidur kembali. 

Besok paginya, jempol kakiku terasa nyeri sekali sehingga aku kesulitan berjalan. Aku memaksakan berjalan ke dapur atau kamar mandi dengan terpincang-pincang. Suamiku beberapa kali mengecek kondisiku lewat whatsapp, dan kemudian mengajakku ke klinik saja setelah jam makan siang. Aku setuju. Sambil menunggu siang, aku rebahan sambil scroll tiktok, mencari tentang cantengan. Kemudian aku menemukan beberapa kasus cantengan yang berakhir dengan operasi cabut kuku. dan sebagian besar adalah yang berobat ke puskesmas. Beberapa ada yang ke IGD, ada yang berakhir operasi cabut kuku juga, ada yang hanya potong separuh kuku, tergantung seberapa parah cantengannya. Ada juga yang mengunjungi klinik khusus cantengan, aku mencari tahu, ternyata di Cianjur sini belum ada. Bahkan ada yang berhasil mengatasi cantengannya di klinik kecantikan yang ada layanan pedicure. 

Semakin banyak menyimak pengalaman orang di tiktok, aku semakin ragu pergi ke klinik, takut harus cabut kuku. Apalagi rata-rata yang cabut kuku di puskesmas mereka disuntik bius 3-4 kali, ada yang sampai delapan kali. dan katanya, sakitny naudzubillah, ada yang ilang lebih sakit dari disunat, ada  yang bilang lebih sakit dari operasi cesar. Aku semakin ragu. Aku memutuskan mengikuti salah satu tips, yaitu merendam kaki yang terkena cantengan dengan air hangat yan diberi garam. Aku rendam selama sekitar dua puluh menit. Setelah itu, ku keringkan kakiku dan ku oles salep antibiotik di jempol kiriku. Aku merasa lebih nyaman, nyut-nyutannya berkurang. Setelah sholat dzuhur, kuulangi lagi merendam kaki dengan air hangat dan garam, kemudian mengoleskan salep antibiotik. Saat suami pulang, aku sedang merendam kakiku. Aku mengatakan untuk menunda pergi ke klinik. Lagipula klinik terdekat saat itu tutup, baru buka lagi pelayanan sore sekitar pukul 16.00 WIB. Suami setuju. 

Aku beberapa kali merendam kakiku, mungkin sekitar lima kali sehari. Semakin lama rasa sakitnya semakin berkurang meski bengkaknya masih ada. Hari ini, tepat satu minggu setelah aku mulai merasakan sakit di jempol kaki kiriku. Aku sudah sembuh, Alhamdulillah. Tak ada lagi bengkak, tak ada lagi rasa sakit nyut-nyut-an, tak ada merah-merah, tak berdarah dan juga tak ada keluar nanah. Alhamdulillah. 

Wednesday, 26 February 2025

Persiapan Menu Sahur dan Buka Puasa

Assalamualaikum.

Tahun ini akan menjadi tahun pertamaku (di sini) memasak full untuk menu sahur dan buka puasa. Tahun-tahun sebelumnya aku hanya memasak ala kadarnya, memasak telur dadar/ceplok/rebus untuk anak-anak jika menu utama yang disediakan di sini pedas. Alhamdulillah selama empat tahun ke belakang, suami mendapat jatah makan sekeluarga tiga kali sehari. Saat ramadhan pun kami mendapatkan takjil, menu sahur dan berbuka masing masing lima porsi karena kami sekeluarga berlima. Mulai tahun ini  jatah tersebut sedikit demi sedikit dikurangi. Yang tadinya untuk berlima, hanya dikasih untuk berdua saja, kemudian lama-lama hanya suami sendiri yang mendapat jatah sementara anggota keluarga lain tidak. Semakin hari semakin dikurangi lagi hingga akhirnya saat ini hanya suami yang mendapat jatah makan, itupun hanya di jam kerja. Karena suami kerja di jam reguler maka suami hanya mendapat jatah makan siang saja. Maka akupun 'terpaksa' rajin memasak.

Ramadhan tahun lalu kami masih mendapat jatah. Biasanya sekitar pukul 03.30 suami ke dapu umum untuk mengambil jatah makan, kemudian aku hanya memindahkannya ke piring-piring dan menyajikannya di meja. Jika kulihat menunya kurang cocok untuk anak-anak, aku segera memasak telur atau menggoreng ayam yang sudah diungkep sebelumnya. Begitu pun saat buka. 

Tahun ini karena aku mulai memasak untuk sekeluarga, aku tak ingin merasa repot. Maka aku mulai menyusun menu sahur dan berbuka untuk satu minggu. Sebelumnya aku sempat membuat daftar menu apa saja yang aku bisa masak, aku sedikit pesimis, ke-kurangsukaan-ku pada memasak membuatku merasa tidak pede dengan hasil masakanku sendiri. Aku yakin hanya beberapa saja menu yang bisa 'diterima' lidah keluargaku, dan aku membuat daftarnya. Ternyata lumayan, ada lebih dari 20 menu. Aku kadang merasa bosan karena hanya memasak menu itu-itu saja, tapi setelah dibuat daftarnya, ternyata lumayan lah ya, bisa kususun sedemikian rupa agar menu makan bisa setiap hari ganti-ganti selama seminggu. 

Setelah menyusun menu untuk satu minggu, aku juga membuat daftar bahan masak apa saja yang harus kami beli. Aku kelompokkan juga mana yang akan dibeli di pasar, mana yang akan dibeli di super/minimarket. Besok aku berencana ke pasar. Bismillah ya semoga lancar semuanya, mood memasak ku tetap baik, hasil masakanku bisa diterima dan dinikmati seluruh keluargaku.

Selamat memasuki bulan ramadhan, everyone. Mohon maaf lahir bathin ya. 

Monday, 24 February 2025

Random post : Keresahan

Assalamualaikum. 

Saat ini lagi ramai ya tentang orang-orang yang bisa mendapatkan penghasilan dari rumah lewat aplikasi si ijo alias lynk. Banyak diantara mereka yang share nominal penghasilannya dan cukup membuat kita tertarik untuk mengikuti jejak mereka. Kelas-kelas belajar pun bertaburan, dari yang gratisan sampai yang berbayar jutaan. Produk yang dijual kebanyakan produk digital seperti template canva, template spreadsheet, e-book, worksheet dan lain sebagainya. Ada juga yang jualan kelas. 

Keresahanku yang pertama adalah tentang jualan kelas ini. Biasanya kelas yang dijual adalah kelas belajar bagaimana menghasilkan cuan dari aplikasi ijo. Ternyata oh ternyata di kelas ini diajarkan mendapat cuannya ya dari mengajak orang lain mengikuti kelas ini kemudian dapat komisi. Semakin banyak yang bergabung semakin besar komisi yang diperoleh. Ya sebenarnya ga ada yang salah juga sih, tapi entah mengapa buatku ini sedikit mengganggu aja. Biasanya mereka juga diberikan 'bahan' untuk jualan berupa tangkapan layar testimoni yang telah bergabung dan bagaimana kehidupan perekonomian mereka berubah setelah bergabung dengan si ijo. Mereka juga sering membagikan tangkapan layar nominal penghasilan. Entah itu tangkapan layar punya siapa, yang pasti menurutku bukan punya mereka yang baru bergabung dan sedang menawarkan itu. Aku punya beberapa teman, dan status whatsapp mereka berisi tangkapan layar ini, maka aku yakin mereka mengikuti kelas yang sama. Aku merasa ini mirip MLM jaman dulu  dimana orang yang telah lebih dulu bergabung menawarkan orang lain untuk bergabung salah satunya dengan cara share testimoni dan penghasilan. Kalau dulu di MLM mereka share tentang reward para leader jalan-jalan ke luar negeri, dapat mobil, rumah. Nah kalau ini share tangkapan layar nominal penghasilan. Mirip ga sih? Aku sempat tertarik tapi setelah menyadari begitu, aku tak jadi ikut  kelasnya. Tentu ini tidak semua ya. Ada juga kelas-kelas yang memang betul-betul mengajarkan bagaimana mendapat penghasilan dari jualan produk digital. Mulai dari membuat produknya, bagaimana menjualnya dan entah apa lagi ya saya kurang tahu juga. Intinya bukan kelas jualan kelas.

Keresahanku yang kedua adalah tentang worksheet. Banyak kan yang membuat worksheet sendiri kemudian menjual. Worksheetnya macam-macam, dari mewarnai, doa-doa harian untuk anak, gunting tempel, matematika untuk anak usia dini, hingga coding. Nah saya pernah melihat beberapa worksheet yang isinya penjumlahan bergambar. Untuk anak usia dini memang betul belajar penjumlahan masih harus menggunakan gambar, tapi tapi tapi ada konsepnya. Ga asal gambar sejumlah angka yang tertulis. Maksudnya gini, ada soal menjumlahkan 2 gambar sapi dengan 3 gambar kucing. Mungkin maksudnya agar anak belajar dua tambah tiga itu sama dengan lima. Tapi ini ga boleh. Untuk anak yang lebih besar mungkin bisa ya, mereka sudah paham kalau 2 sapi dengan 3 kucing itu ya tetap 2 sapi dan 3 kucing, total jadi ada 5 hewan. Tapi untuk usia dini belum sampai situ, mereka masih di usia menjumlahkan yang satu variabel aja.  Aku berfikir positif aja, mungkin si pembuat worksheet ini ingin agar orang tua jeli sehingga anak-anak belajar lebih jauh. Tapi tetap meresahkan sih buatku. 

Keresahan lainnya, nanti ku update ya...

Sunday, 23 February 2025

Random Post : Memasak

Assalamualaikum.
Kali ini aku ingin cerita tentang salah satu kegiatan rutin rumah tangga, yang menurut banyak orang perempuan wajib bisa tapi aku ga suka, yaitu memasak. Melihat bagaimana ibu dan mamah (mertua)ku memasak setiap hari, seringnya sehari tiga kali setiap menjelang jam makan, sering membuat aku merasa malu dan insecure. Sampai usia pernikahanku kini dua belas tahun, aku masih belum bisa 'cinta' dengan memasak.
Aku mulai belajar memasak ketika kerja, setelah lulus kuliah. Itupun masak-masak ala anak kost pakai kompor listrik. Sebatas membuat sop sayuran, telur ceplok atau dadar, goreng tahu tempe dan tentunya masak mie instan. Awal-awal menikah dan tinggal terpisah dari orangtua, aku mencoba memasak setiap hari jika suami ada di rumah. Jika suami di site, tentu saja aku memilih beli lauk matang di warteg dekat kontrakan kami. Saat itu, masakanku bertambah. Tak hanya sop sayuran, aku mulai belajar memasak tumis kangkung dan bayam. Saat sedang hamil anak pertama, aku pernah terkaget-kaget. Kami beli kangkung seikat, wortel dua biji dan sepotong papan tempe, saat itu harganya lima ribu rupiah saja, beli di warung tetangga.  Setelah dimasak, ternyata bisa untuk dua kali makan kami berdua, bahkan masih sisa. Wow murahnya. Pernah berpikir mau rajin masak aja biar hemat. Tapi ternyata aku tak bisa. Aku lebih sering bete dan sedih saat memasak. Murah sih, tapi capek banget. Dari mulai persiapan motong-motong sayurnya, nyucinya, masaknya, eh setwlah masakannya jadi ternyataga enak. Ditambah lagi setelah itu harus mencuci piring dan alat masak. Menurutku saat itu, ga worthed aku berhemat sekian rupiah tapi harus diganti dengan badmood seharian yang lama-lama menjadi faktor pemicu stres terbesar. 
Bertahun-tahun kemudian, aku masih belum menyukai memasak tapi aku mencoba tetap memasak untuk keluargaku. Apalagi setelah ada anak, aku ingin memastikan asupan gizi anak-anakku tercukupi. Aku juga pernah ketat masalah pemberian msg di makanan keluargaku. Akj hanya berani memasak masakan sederhana yang sudah teruji bisa diterima lidahku dan keluarga kecilku. Aku tak berani bereksperimen. Sekali dua kali mencoba resep, tapi aku benci ketika membaca takaran di resep "garam secukupnya", "gula secukupnya". Yaaa secukupnya itu segimanaaaaaa? Aku malah sering marah-marah karena setelah ku cicipi ya rasanya ga enak. Maka aku masih tetap sering beli lauk di luar. 
Saat ini, setahun terakhir ini aku 'terpaksa' memasak setiap hari. Thanks to tiktok karena banyak video-video memasak sederhana yang bisa kujadikan referensi. Aku mulai terbiasa belanja ke pasar seminggu sekali, menyusun menu, menyiapkan food preparation agar saat memasak lebih mudah dan cepat. Aku bahagia saat suami dan anak-anak memakan habis masakanku. Anak-anak yang setiap beberapa jam bilang "bun, lapar", "bun, ga ada cemilan?", "bun, bikin cemilan apa?" membuatku mau gak mau memasak lebih dari satu kali sehari. Kadang sengaja pagi-pagi ku masak sop baso sepanci besar agar cukup sampai makan malam, tinggal tambah telur dadar atau goremg tahu tempe, api tak pernah berhasil. Setelah dimakan pas sarapan, maka snack time jam 10an habislah itu sop sepanci. Paling mentok sampai makan siang. Makan malam ya harus masak lagi. 
Oh ya, di sini aku tak pernah beli lauk matang di warteg. Alasannya ada lah. Kalau lagi males masak, sekalian aja semua makan di luar. Sesekali aku order makanan online, tapi bukan makan utama, cemilan semacam martabak, seblak, roti, atau es krim dan kopi. Aku juga masih menjaga ketat asupan MSG untuk keluargaku, saat ini gula juga sedikit-sedikit ku kurangi. Aku hanya menggunakan gula merah untuk memasak. Aku pernah shock pas masak bareng ibu-ibu untuk liwetan. Goreng teri segenggam dikasih micin sesendok bebek penuh. Aku yang penasaran mencicipinya, dan rasanya ENAK haha, meski terlalu asin dan langsung membuat kepalaku berat. 

Thursday, 20 February 2025

Landasan Muslim Memilih Homeschooling (2)

Part 1 di sini

Misi 4 : Muraqabah 

Muraqabah artinya merasa diri selalu diawasi oleh Allah SWT. Sebelum sampai ke muraqabah, ada dua tahap yang perlu kita lakukan sebagai orang tua dalam keseharian bersikap dan mendidik anak, yaitu muhasabah dan musyarathah. 

Muhasabah adalah melakukan introspeksi diri setelah melakukan sesuatu. Dalam hal mendidik anak, sebagai orang tua kita tidaklah sempurna, kadang (atau sering) melakukan kesalahan. Maka, ketika anak-anak melakukan kesalahan, kita mengingatkan diri bahwa anak-anak adalah manusia (sebagai mana kita). Dengan menyadari itu, kita tahu bagaimana seharusnya berekspektasi terhadap anak-anak. Tidak menganggap sebuah kesalahan itu akhir dunia. Yang penting adalah bagaimana menggiring anak-anak untuk bermuhasabah dan menyadari kesalahan-kesalahan mereka. 

Musyarathah artinya saling memberi syarat. Jujur sebenarnya saya belum terlalu paham tentang musyarathah ini. Sepertinya ke arah bersungguh-sungguh menjaga pikiran, ucapan, tingkah laku agar selalu melakukan hal-hal yang baik. 

Selanjutnya muraqabah, seorang muslim harus mengawasi jiwa-jiwa mereka. Seorang muslim perlu menghadirkan 'keagungan' Allah dihatinya. Harapannya dengan memahami ini kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan segala hal. Dalam mendidik anak pun, muraqabah insyaallah dapat membuat mereka takut kepada Allah dimanapun mereka berada, lebih hati-hati dalam bertindak walaupun orang tuanya tidak ada. 

Misi 5 : Shalat, amar ma'ruf nahi munkar, dan sabar.

Landasan pendidikan rumah selanjutnya diambil dari surat Luqman ayat 17.

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ۝١٧

"Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan." 

Shalat. Saat menjelaskan tentang ini, ada satu hal yang paling membekas, yaitu mengatur jadwal harian dengan berpatokan pada waktu sholat. Selama ini, kami lebih banyak berpatokan pada jadwal sekolah/kelas/zoom. Pembiasaan bangun pagi pun bisa dilakukan sejak anak usia dini. Maka, anak-anak sebaiknya dibiasakan bangun sebelum/menjelang subuh. Nah kita urut mundur, jika ingin bisa bangun sebelum subuh maka anak harus sudah tidur jam  berapa, misal paling telat jam setengah sembilan. Berarti makan malam harus jam berapa, agar ada jeda waktu yang cukup dari makan terakhir ke tidur. Mundur lagi selesai main harus jam berapa, tidur siang harus jam berapa, dan seterusnya. 

Ilmu melakukan shalat yang benar sebagai ibadah juga perlu diberikan sejak dini, sejak sebelum anak diperintahkan shalat. Mengajari anak rukun-rukun shalat, agar anak tahu jika rukun ini tidak dilakukan, maka shalatnya tidak sah. Meskipun anak belum diperintahkan shalat sebelum usia 7 tahun, tapi masa ini adalah masa emas untuk memberikan contoh/teladan dan ilmu yang akan dipakainya seumur hidup. 

Untuk mendidik amar ma'ruf nahi munkar dan menjalani dengan kesabaran, nanti ya di post terpisah. 

Misi 6 : Mendidik komunikator yang tawadhu

Landasan pendidikan rumah yang terakhir diambil dari surat Luqman ayat 18.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ۝١٨

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

(bersambung)