Friday, 18 August 2017

Amanah Sosial

Assalamualaikum.

Matahari pagi ini ga seterik kemarin, tapi cukup hangat untuk membuat seekor kucing berjemur. Angin pun semilir saja, ga "ngagelebug" seperti beberapa hari yang lalu. Hiasan bendera plastik bekas agustusan kemarin sudah mulai copot di halaman mesjid sekolah Sina.
Hari jumat merupakan salah satu hari seru di sekolah. Ibu-ibu yang biasanya cuma mengantar lalu pulang lagi, hari ini berkumpul dulu, tujuannya apalagi kalau bukan ngocok arisan. 
Arisan ini salah satu ajang kumpul ibu-ibu. Yang jarang ke sekolah, jarang ketemu, hari jumat biasanya datang. Kadang ada yang sengaja bawa makanan until dimakna bersama sambil ngariung buka arisan. Lanjut ngobrol-ngobrol seputar kegiatan sekolah anak-anak kami. Kadang, berlanjut ngegosip. Biasanya gosip seputar lingkungan. Saya yang ga paham seputar lingkungan sini cuma jadi pendengar aja. Ga ngerti juga yang diomongin itu siapa dan dimana. 
Saya ada beberapa 'PR' sebenarnya dari Bapak kepala yayasan. Beberapa waktu lalu sempat banyak ngobrol dengan beliau tentang kondisi lingkungan di sini, kondisi para siswa dan keluarganya terutama. 

Tuesday, 15 August 2017

Tentang Marah (2)

Assalamualaikum.
Marah Yang Bijak karya Bunda Wening
Saya duduk di depan salah satu saung di sekolah Sina. Sebelah kanan ada kumpulan pot bunga kecil. Saya ga paham jenis bunga, tapi bagus-bagus. Bunganya berwarna pink, ungu, dan jingga. Angin cukup besar, daun pohon rambutan di playground bergoyang. Matahari cerah, tapi udara dingin. Sina pun enggan melepas jaketnya. 
Sina sudah aman di kelas, kedengarannya sih sedang rame-rame mbaca surat An-Naas. Saya mau lanjutkan cerita tentang marah.
Nah, di buku Bunda Wening itu ada satu bab yang membahas ' Teknik Pengendalian Marah'. Saya coba tuliskan ya

- Teknik relaksasi nafas.
Saat akan/sedang marah, tarik nafas dalam-dalam dan tahan 3-4 hitungan, keluarkan perlahan. Rasakan betapa nyaman. Bernafas normal dan ulangi lagi beberapa kali. Biarkan telapak kaki rileks. Kalau tubuh sudah rileks, langkah pengendalian marah selanjutnya akan lebih mudah.
PR kita adalah bagaimana membuat relaksasi ini menjadi perilaku otomatis. Kita harus melakukan install ke dalam pikiran bawah sadar kita. Caranya? Setiap menjelang tidur, setelah membaca DOA, niatkan cara ini sebagai usaha perbaikan pengendalian emosi diri. Ucapkan kalimat sugestif," Mulai malam ini dan seterusnya, setiap saya melihat, mendengar, dan merasakan segala sesuatu yang membuat saya tidak nyaman, saya akan melakukan relaksasi seperti ini." Lakukan relaksasi nafas sebanyak 15-20kali. Ketika menghembuskan nafas,ucapkan,"Saya ikhlas,ya Allah" atau istigfar.

Tentang Marah

Assalamualaikum.
Cibiru dingin sekali pagi ini. Enaknya main ponsel sambil selimutan lagi. Tapi ajaib, pagi ini saya sudah selesai beberes, masak, dan nyuci piring. Saya bilang ajaib ya karena ini kejadian yang jarang sekali. Biasanya jam segini saya lagi riweuh nyiapin sarapan dan bekal sekolah Sina. Beberes dan lain-lain saya tangguhkan sampai nanti siang sepulang sekolah. Tapi merugi kan ya kalau hari ini sama aja kayak hari kemarin-kemarin, bismillah, semoga konsisten. 
Saya agak kepikiran celetukan seorang anak -teman Sina- di sekolah kemarin. Ibu-ibu kan suka ngumpul ya menjelang anak bubaran sekolah, duduk-duduk di teras mesjid sambil ngobrol dan ngemil. Anak-anak yang keluar kelas biasanya langsung mendekati ibu-ibu (atau nenek)nya masing-masing sambil cerita ini ITU. Kebanyakan cerita tentang kegiatan sekolah hari itu. 
Nah, kemarin saya mendengar seorang anak nyeletuk ' Mamah mah ambek-ambekan wae ih. Teu siga Bunda Sina tuh bageur, tara ngambek'. Artinya kurang lebih ' Mamah nih marah-marah aja. Ga kayak Bunda Sina, baik hati dan ga pernah marah.' Ibunya menjawab 'ya wajar we ngambek da kamu na siga kieu, coba mun bageur siga Sina pasti moal diambekan was.'.
Saya senyum-senyum pahit mendengarnya. Ah, pencitraan saya berhasil. He he. . mereka ga tau aja kalau sebenarnya saya juga termasuk ibu yang sering marahin anaknya beberapa waktu lalu. Sampai saat ini masih sih, tapi insyaallah saya sedikit bisa mengontrol rasa marah saya. 
Saya membaca ulang bukunya Bunda Wening tentang 'Marah yang bijak'. Boleh koq kita marah, tapi bagaimana cara kita marah itu yang harus diperhatikan.
Marah itu kan sebenarnya emosi dasar manusia ya, sama halnya seperti gembira, takut, sedih, jijik dan terkejut.* Kita biasanya marah sebagai respon atas perilaku anak yang tidak kita sukai atau kita anggap tidak baik. Sayangnya bagaimana kita menyampaikan rasa marah itu akan memberikan dampak secara psikologis kepada anak. Dampak baik atau buruk, bergantung bagaimana cara marah kita. Dampak buruknya anak menjadi kurang empatik, mudah depresi, dan sulit beradaptasi dengan dunia luar. Dampak lainnya, anak meniru perilaku marah, pemurung/tidak ceria, cenderung menutup diri dari lingkungan dan memberontak.
Marah yang tidak terkendali sebenarnya tidak ada gunanya. Apakah setelah marah-marah dapat mengubah perilaku anak menjadi seperti yang kita harapkan? Yang terjadi malah kita mempermalukan diri sendiri dan anak, dan tanpa kita sadari kita sedang 'menularkan' kemampuan marah kita kepada anak.
Marah selama ini dipahami sebagai suara yang keras, membentak, kalimat yang kasar, mata melotot, kedua tangan di pinggang, cubitan, pukulan dan lain-lain. Padahal ada cara lain bagaimana menyampaikan 'marah' kepada anak. Ini terkait dengan apa sebenarnya tujuan kita marah. Biasanya sih tujuannya supaya anak nurut, tidal mengulangi perbuatannya dan yang semacamnya. Kalau kita cross chek, apa tujuan kita berhasil? Biasanya tidak..
Bersambung ya, mau siap-siap ke sekolah Sina dulu...
Wassalamualaikum

Monday, 14 August 2017

Sina (lanjut) Sekolah

Assalamualaikum.

Matahari cukup terik siang ini, tapi angin sudah tidak sebesar tadi pagi. Anak-anak sedang istirahat. Sebagian besar main di playground, sebagian lagi lari-lari di halaman mesjid. Sina? Ada di ayunan bersama teman-temannya dan ibu guru.
Tidak terasa 2 hari lagi tanggal 16, artinya sudah sebulan sejak hari pertama Sina sekolah di PAUD ABC Al-Muhyidin. Saya rasa waktu sebulan sudah cukup untukbmemutuskan apakah Sina akan lanjut sekolah atau kembali sekolah di rumah dengan Bunda alias homeschooling ala-ala.
Saya coba cerita lagi ya tentang sekolah ini. Nama sekolahnya PAUD Alam Terpadu Bintang Cendikia Al-Muhyidin. Ada di bawah yayasan Al-Muhyidin. Berdiri sejak tahun 2011. Selain PAUD, yayasan ini juga ada rumah tahfidz, TPA, dan entah apa lagi, he he.
Mesjid Al-Muhyidin
Lokasinya ada di dalam gang, tapi tidak sampai 50m dari jalan yang bisa dilewati mobil. Ada tempat parkir juga kalau kita bawa kendaraan. Bukan punya sekolah sih, tapi boleh. Sebelah kanan kebun yang dibenteng, kiri lapangan dan kolam, depan dan belakang rumah warga. Walaupun di sekitar rumah warga, tapi cukup terpisah koq. Tidak terganggu oleh warga yang lewat atau berkegiatan di sekitar.