Monday, 3 October 2016

Nabung Emas di Pegadaian, Yuk!

Sumber
Ada yang sering menggunakan jasa Pegadaian?
Sekarang di Pegadaian ga cuma bisa gadai barang aja loh, tapi ada produk lainnya. Ada pembiayaan usaha mikro, pembiayaan kendaraan, juga jual beli emas. Jual beli emas di Pegadaian juga macem-macem caranya, bisa tunai, kredit atau tabungan. Nah yang mau saya ceritakan kali ini adalah tentang Tabungan Emas Pegadaian.
Siapa sih yang ga mau investasi di emas? Sekarang hampir semua orang selain nabung uang, juga nabung emas. Alasannya simple, emas itu harganya jarang turun, kalaupun turun ga pernah sampai anjlok banget banget. Alasan lainnya adalah gampang dicairkan (dijual) jika perlu uang mendadak. Nah, masalahnya ga semua orang bisa beli emas buat ditabung. Kalau yang punya uang sih ya ga usah mikir tinggal beli beli aja. Atau kalau mau punya dalam jumlah besar bisa kredit. Tapi buat golonan menengah ke bawah, masih mikir-mikir tuh kalau mau nyicil emas. Nah, Pegadaian melihat peluang itu dan mengeluarkan produk Tabungan Emas Pegadaian yang sasarannya memang menengah ke bawah, jadi bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial setiap orang.
Nah, terus keuntungan Tabungan Emas di Pegadaian ini apa kalau dibanding tabungan emas lainnya?
  • Gak perlu dana besar
Kalau beli emas batangan langsung kan minimal harus beli 5gram ya, atau kalau beli emas perhiasan minimal 1 gram. Eh ada ya 0,5 gram. Nah, di Pegadaian kita bisa nabung mulai 0,01gram aja. Misal kalau harga emas hari ini Rp.500000, kita bisa nabung Rp.5000 aja. Ntar di konversi ke emas di pegadaiannya. Jadi setoran minimalnya setara 0,01 gram emas.
  • Waktu menabung bebas
Kita bebas menentukan kapan kita mau menabung. Mau seminggu sekali, sebulan sekali, 3 bulan sekali, atau setiap hari bebas aja.
  • Keamanan terjamin.
Nabung emas di Pegadaian jangan khawatir emasnya di bawa kabur atau dicuri rampok ya buibu..
  • Bisa dijadikan jaminan.
Nah, tabungan emas kita juga bisa dijadikan jaminan kalau sewaktu-waktu kita perlu uang tunai. Jadi ga usah gadai barang atau emas lain, tabungan kita aja gadaikan.
  • Fisik emas bisa dicetak dengan ukuran 5 gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram atau 100 gram. Ada biaya cetak yang ditentukan Pegadaian.
  • Sertifikasi ANTAM dan Pegadaian
Ga usah khawatir emasnya abal-abal, karena ada sertifikatnya. Sertifikasi ANTAM. Oh ya sekarang juga Pegadaian bikin sertifikat sendiri dengan merek PT.Pegadaian
 
Emas sertifikat pegadaian
Sumber
Syaratnya juga gampang dan ga ribet, cukup
  • Berusia minimal 21 tahun atau maksimal 55 tahun.
  • Mengisi form pengajuan
  • Menyerahkan fotocopy ktp
Terus gimana caranya? Tinggal datang ke Pegadaian cabang mana saja dengan membawa persyaratan di atas, bilang mau buka tabungan emas. Ada biaya admin 5ribu dan biaya titip emas 30rb pertahun. Selesai deh.
Untuk yang muslim, silakan dikaji ulang dan dicari tau melalui sumber terpercaya bagaimana hukum tabungan emas ini. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa membeli emas harus tunai karena jika nontunai jatuhnya riba. Saya sendiri belum mempelajari sampai sana. Insyaallah saya akan update setelah saya paham betul bagaimana hukumnya.

Wassalamualaikum.



Yuk, Sensor Mandiri!

Sumber
Saya suka nonton, nonton di rumah tapi, bukan di bioskop. Alasannya adalah karena saya ga suka gelap, suka sesak nafas kalo gelap total. Yaa, walaupun di bioskop itu ga gelap total sih, karena kan ada cahaya ya dari layar, tetap saja buat saya nonton di rumah lebih menyenangkan. Tapi bukan berarti saya sama sekali ga pernah ke bioskop. Pernah, cuma jarang banget. Film terakhir yang saya tonton di bioskop itu film Ainun Habibie.
Kenapa saya tiba-tiba ngomongin bioskop? Soalnya sekarang lagi heboh kan ya film Warkop DKI Reborn yang berhasil memecahkan rekor jumlah penonton yang selama ini di pegang Laskar Pelangi sejak tahun 2008. Sempat terpikir juga sih mau nonton, udah ngajakin Akang juga. Sayangnya Akang lagi super sibuk dan ga ada waktu buat ke bioskop. Kalau sendirian mana seru. Lagian gimana sama Sina? Sina kan ga mungkin dibawa ke bioskop buat nonton Warkop. Walaupun saya lihat banyak tuh yang bawa anak kecil buat nonton Warkop DKI. Ya, walaupun memang film tersebut dan film lainnya sudah lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film Indonesia, tapi kita tetap harus melaksanakan sensor mandiri.
Lembaga Sensor Film tidak bisa membatasi langsung semua tayangan, baik itu untuk film bioskop maupun di televisi. LSF hanya memberikan izin tayang pada konten yang diajukan untuk ditelaah apakah bisa lulus sensor atau tidak. Kalau konten yang diajukan itu ada yang tidak lulus sensor, LSF mengembalikannya ke pembuat film untuk diperbaiki sehingga bisa lulus sensor. Izin tayangnya pun beragam. Bisa izin tayang untuk umum atau untuk kalangan tertentu saja.
Lembaga Sensor Film akan menyensor tayangan yang didalamnya ada aspek kekerasan, perjudian, narkotika, pornografi, SARA dan kotoran. Nantinya juga akan diklasifikasi berdasarkan usia. Ada kategori semua umur, 13+, 17+, dan 21+.
Nah, karena LSF ini membagi tayangan berdasarkan kategori usia, maka selanjutnya kita harus melakukan sensor mandiri. Maksudnya gimana? Gini loh, misalkan film A lulus sensor untuk tayang di bioskop degan kategori 13+, ya kita jangan bawa anak usia 8 tahun buat nonton film tersebut. Atau  kalau film 21+ ya  jangan ajak adek yang masih SMA buat nonton film tersebut. Selain kita pribadi, yang harus melakukan sensor mandiri adalah pengelola (dan pekerja) gedung bioskop. Jangan sampai pas menayangkan film semua umur tapi ada trailer film yang 17+ misalnya. Atau ketika ada anak SD  beli tiket film yang kategorinya 17+ ya jangan dibolehin dong. Jangan cuma mikir yang penting tiket laris.
Sayannya kita juga ga bisa sih minta pengelola gedung bioskop untuk melakukan hal yang kita mau. Tetap kita sendiri yang harus membiasakan diri melakukan sensor mandiri terhadap tayangan apapun, apalagi kita sebagai orangtua yang punya anak usia 17 tahun ke bawah. Kita juga tidak bisa mengontrol tayangan apa yang mereka tonton di luar rumah, tapi setidaknya kita wajib edukasi mereka apa saja yang boleh mereka tonton dan apa saja yang tidak. Untuk anak usia lebih kecil pun, kita harus benar-benar melakukan sensor mandiri saat mereka ingin menonton televisi di rumah. Acara live music yang isinya banyak pembawa acara saling ledek juga menurut saya ga baik buat anak usia SD, apalagi balita. Atau sinetron luar negeri yang tayang hampir seharian yang ceritanya tentang perselingkuhan dan pembalasan dendam.  Atau jika mereka senang nonton video di youtube, pastikan kita yang memilihkan buat mereka, sesuaikan dengan usia mereka. Hindari menonton online agar gak muncul tuh iklan-iklan yang kadang sangat tidak layak dilihat anak. Lebih baik download saja.
Bagi yang tidak bermasalah anak mau nonton apa saja, silakan juga. Pilihan masing-masing itu mah. Tapi saya yakin sih semua orang tua ingin yang terbaik buat anaknya, termasuk dalam memberikan tayangan baik di televisi maupun gadget lainnya. Yuk, biasakan sensor mandiri.

Wassalamualaikum.

Tuesday, 2 August 2016

Assalamualaikum.

Entah bagaimana memulai kembali. Saat ini ada banyak hal yang begitu mengganggu fikiran saya. Sampai akhirnya kemarin ada yang nanya kenapa koq ga pernah update blog lagi. Saya ga bisa jawab dengan pasti karena saya pun ga tau pasti bagaimana mengatakannya.
Ketika saya berfikir ulang tentang blog ini, saya bingung sendiri sebenarnya mau dibawa kemana. Isinya yang terlalu macam-macam dan berantakan sekarang begitu mengganggu rasanya.
Saya memang mendapatkan 'sesuatu' dari menuliskan review local product dan saya memang sedang menyukai dunia dandan ini. Tapi kemudian saya merasa terganggu ketika sebuah produk saya terima, saya serasa 'dikejar' untuk menulis reviewnya.
Ketika saya menuliskan resep masakan abal-abal saya, saya merasa minder, masa ginian doang ditulis cuma buat ngejar jumlah postingan. Resep-resep itu lebih rapi saya tulis tangan di buku agenda 2010 peninggalan alm Bapa.
Ketika saya cerita tentang membuat sesuatu, saya minder juga, yang lain yang jauuuh lebih jago dan lebih menarik karyanya dibanding saya itu banyak banget. Jadi saya merasa tulisan saya ga ada artinya.
Begitupun dengan curhat. Sekarang saya takut tulisan saya bisa menyakiti orang lain yang kondisinya ga sama dengan saya. Saya takut dibilang pamer kemudian didoakan yang jelel-jelek sama orang lain. Saya takut dikira sombong karena memamerkan sesuatu yang mungkin sebenarnya orang lain punya yang jauh lehih baik. Saya ga mau dibilang lebay ketika curhat suatu masalah ketika masalah saya itu ternyata ga ada apa-apanya dibanding masalah orang lain. Saya takut akan banyak hal.. Yang paling saya takutkan adalah bagaimana kelak saya akan mempertanggungjawabkan semua tulisan saya. Bagaimana jika ada yang sedih karena tulisan saya, bagaimana jika seseorang menjadi marah karena tulisan saya, bagaimana jika ada yang tersinggung atau sakit hati, bagaimana jika ada yang....banyaklah yang kepikiran.
Mungkin saya lagi melow aja kali ya. Ya kita lihat sajalah bagaimana kelanjutan blog ini. Yang pasti saya akan menyelesaikan dulu hutang tulisan saya yang sudah beberapa minggu mengendap di draft.
Ah ya, saya pengen berubah, saya pengen jadi orang baik. Tolong doakan saya..

Wassalamualaikum.

Saturday, 7 May 2016

Long Weekend Day3 : Mini Reunion

Assalamualaikum Wrwr.

Hari ini saya masih posting pakai hp, belum bisa nyentuh laptop. Tapi sebenarnya udah di rumah koq. Tadi pagi kami kembali dari Garut. Alhamdulillah perjalanannya lancar, ga macet, dan ga ada apa-apa.
Masih betah di rumah ibu, masih males balik ke Bandung. Tapi bagaimanapun jadwal harus tetap dilaksanakan. Akang mau ke Tasik besok jadi mau ga mau hari ini harus sudah di Bandung. Saya pun ada janji ketemuan sama temen-temen ngajar dulu.
Kebetulan Teh Icha yang tinggal di Bogor juga lagi liburan di Bandung. Jadilah kami mengagendakan untuk ngumpul sekaligus ngajak main anak-anak ke Bonbin.
Kami janjian jam 1 di dipo. Saya berangkat dari rumah setengah jam sebelumnya. Ngajakin Sina tapi apalah daya Bos Cilik maunya di rumah aja. Cape ya Nak. Jadilah saya berangkat sendirian, pakai motor. Dan tiba-tiba hujaaaan. Alhamdulillah Sina ga ikut. Kalo ikut ya ikutan hujan-hujanan. Agenda ke Bonbin pun batal. Jadinya kami cuma nongkrong sambil makan aja di Baltos. Sambil cerita-cerita tentang masa lalu saat kami masih sama-sama jadi pengajar. Cerita tentang kehidupan kami kini yang berbeda-berbeda. Cerita tentang anak-anak. Tentang kehamilan dan KB, tentang biaya melahirkan, tentang anak yang susah makan dan gak naik timbangannya. Juga tentang usaha kami, bisnis kami atau pekerjaan kami. Dua jam rasanya kurang. Masih banyak yang ingin kami bicarakan tapi hari sudah sore. Kami bubar. 
Saya berharap suatu saat bisa berkumpul kembali dengan kondisi yang jauuh lebih baik. Yang punya masalah sudah selesai. Kehidupan kami sudah jauh lebih mapan. Semoga semua impian kami segera terwujud. Amiin.

Wassalamualaikum