Tuesday, 1 August 2017

'Berbagi' Separuh

Assalamualaikum.

Aih perasaan saya ga karuan, lihat Sina nangis-nangis mau ke Bunda. Ini pertama kalinya Sina nangis tapi ga saya peluk. Malah saya yang ikutan nangis di luar kelas. Satu sisi, ya salah satu prosedur di sekolah ini ya gini. Kalau anak nangis wayahna ibu bapaknya tetap nunggu di luar. Gurunya ga diam jg koq pas anak nangis, dibujuk-bujuk , dipeluk, digendong. Kegiatan tetap berjalan walaupun sambil gendong anak. Cara ini jg mengajarkan anak bahwa ga semua yang diinginkan bisa didapat.

Di sisi lain, saya rada khawatir bakal bikin anak trauma. Saya melihat ada sedikit "paksaan" walaupun sangat-sangat lembut. Selama ini saya penganut bahwa segala sesuatu itu harus dengan kerelaan anak. Seperti halnya menyapih dulu. Sekarang sih Sina sudah berhenti nangis, sudah duduk kembali di kursinya. Saya intip sedikit, wajahnya masih sedih. Ah, saya yang melow ini mah. Saya nulis ini sambil nguping dan intip-intip dikit. Sina masih terlihat sedih tapi barusan mau maju ke depan bikin garis-garis. Mau ngegunting juga.  Alhamdulillah. 
Sepertinya saya nya yang memang harus ikhlas ya  kalau ada kondisi seperti ini. Toh Sina juga udah biasa lagi, eh saya nya yang masih kepikiran. Saat di sekolah, saya memang harus percaya 'menyerahkan' Sina sama guru-gurunya. Yaa, ternyata berbagi separuh hak dan tanggungjawab juga ga mudah ternyata. Harus ikhlas juga. 
Sebenarnya anak-anak lain udah ga ada lagi yg ditungguin. Semua cuma diantar jemput. Saya aja yang masih suka nungguin. Alasannya banyak. Pertama, karena lumayan jauh juga kalo pulang dulu. Kecuali kalau pas saya ada kegiatan lain seperti posyandu atau senam seperti kemarin. Kedua, sambil nunggu Sina, saya jadi punya waktu khusus buat blogging, atau dengerin kajian online, atau baca buku. Beneran waktu khusus so ga kepikiran cucian yang belum dijemur atau sayuran yang belum dipotong-potong. Jadi ada slot waktu khusus lah. Ketiga, saya sambil nguping, ngapain aja di sekolah. Ada beberapa latihan motorik halus yang Sina belum lancar dan saya bisa mengulangnya di rumah. Saya juga bisa dapat ide-ide lain buat main-main di rumah, meniru kemudian memodifikasi. Keempat, saya memastikan bahwa tidak ada nilai-nilai yang melenceng dari visi misi keluarga kami. Kalaupun ada, saya jadi tau dan ada kesempatan buat bahas sama Sina. 
Saya intip lagi, Sina lagi main balok dan wajahnya sudah ceria kembali. 
Kelima, ya itu tadi, saya masih belum ikhlas sepenuhnya berbagi separuh hak dan tanggungjawab 'mendidik' Sina. Mungkin saya masih akan tetap setia nungguin, ngintip dan nguping kegiatan sekolah Sina sampai saya betul-betul yakin bahwa keputusan memasukkan Sina ke sekolah itu sudah tepat. 
Wassalamualaikum


No comments:

Post a Comment