Thursday, 25 January 2018

Empati, Melatih Kepekaan Hati

Assalamualaikum Wrwb

Saya sebenarnya bingung mau ngasih judul apa di cerita kali ini, karena ya sebenarnya ini mah sama aja kaya catatan hati alias curhat aja. Maapkan karena saya belum nulis hal-hal berbobot seperti seharusnya. Sementara ini saya masih fokus pada pengurangan sampah-sampah  emosi yang berkaitan dengan pengendalian emosi dalam diri, biar saya tetap waras.
Saya merasa tertampar, saat menyadari bahwa status WA saya mungkin telah menyakiti banyak hati. Niat saya untuk berbagi kabar gembira ternyata malah membuat sebagian orang merasa sedih dan merasa diri tak seberuntung saya.
Saya mengupload foto hasil USG kehamilan saya yang kedua. Iya , Alhamdulillah, Allah berikan kami kepercayaan kembali. Saya menahan untuk tidak upload apapun di semua media sosial saya pada awal-awal kehamilan. Ketika usia kandungan saya masuk 13minggu, tiba-tiba saya iseng menjadikan foto USG sebagai status, tanpa caption apapun.
Responnya, sama sekali tak terduga. Banyak yang japri memberi ucapan selamat, menanyakan sudah berapa bulan/minggu. Ada juga beberapa yang bilang "Yee, kita hamil barengan lagi, bisa sharing lagi ntar ya kayak kehamilan kita sebelumnya." Tapiiii, ada beberapa yang mengucapkan selamat dengan diakhiri :"Teh, doakan saya ya, semoga saya juga dikasih kepercayaan kayak Teteh." Atau "Whuaaa, gua juga pengen hamil. Kenapa lu yang udah punya anak sekarang dikasih lagi, koq gue belum dikasih satupun." Atau "Semoga lancar ya Teh, sehat ibu dan bayinya sampai lahiran kelak. Jangan kayak saya yang harus kehilangan bayi di tengah perjalanan kehamilan saya." Dan kalimat-kalimat lain yang kurang lebih menyatakan kesedihan mereka melihat status saya.
Saya tersentak, hati saya tiba-tiba merasa sesak. Allah, apa yang saya lakukan? Show off? Alias pamer? Dimana letak empati yang selama ini saya coba jaga betul-betul agar tak menyakiti orang lain? Saya pernah cerita di post yang ini bahwa saya sempat berhenti menulis dan menarik kembali beberapa tulisan saya yang berpotensi menyinggung atau melukai hati orang lain. Tapi, hal tersebut kembali saya lakukan. Astagfirullah. Tidak sampai satu jam, saya hapus kembali foto tersebut.
Lalu, apa sebenarnya saya salah jika saya ingin berbagi kabar gembira? Saya jawab sendiri. Sebenarnya bukan salah, tapi saya yang tidak melihat situasi dan kondisi juga media apa tempat saya berbagi kabar tersebut. 
Alhamdulillah Allah ingatkan kembali pentingnya berempati, pentingnya memikirkan kembali sebelum kita melakukan suatu hal, pentingnya mempertanyakan apakah yang kita tulis/sampaikan/lakukan bermanfaat, pentingnya menyadari bahwa tidak semua orang seberuntung kita. 
Bukan hanya masalah foto USG dan kabar kehamilan saja sebenarnya. Jika dipikir-pikir, saya pun beberapa kali pernah merasa sedih saat melihat status orang lain. Dan statusnya bukan yang wah gimana-gimana, "cuma" foto makanan. Sayangnya, untuk ibu hamil yang kata orang suka ngidam, lihat foto makanan saja bisa bikin nangis meraung-raung seharian. Dan tidak cuma sekali saja. Pernah ada satu foto yang membuat saya "kabita pisan", sayangnya ternyata makanan tersebut jauuh dari jangkauan saya, ga bisa beli di dekat-dekat sini, ga bisa beli via gofood atauu grabfood, ga memungkinkan buat nitip pula. Sedih kan ya? Atau pernah suatu waktu, foto makanan lain sama menggodanya, meski bisa dibeli hanya dengan berjalan beberapa langkah saja, tapi pas saat itu lagi ga ada uang buat beli. Sedih banget kan ya? Iya, buat saya mah. Buat yang lain mah mungkin biasa aja.
Banyak juga sih hal lain yang mengundang ke-baper-an. Saya, sebisa mungkin akan menjauhi setidaknya mengurangi untuk pamer. Meski mungkin sebenearnya tak ada niat untuk pamer. Hidup selalu berubah. Roda terus berputar. Dan kondisi setiap orang tidaklah sama. Jika saat ini Allah karuniakan kebahagian, mungkin entah kapan justru penderitaan yang saya rasakan. Saya merasa bersyukur dikasih kepercayaan untuk hamil lagi sementara ada banyak orang yang telah bertahun-tahun menikah dan masih menanti kapan ada dua garis di test pack-nya. Ada yang senang bisa mencoba makanan kekinian dan menceritakannya di media sosial, padahal mungkin di tempat lain ada orang yang menahan lapar seharian karena ga bisa beli beras walaupun sekilogram. Seseorang bisa berbagi cerita tentang serunya liburan ke suatu tempat, mungkin orang lain ada yang bahkan ga bisa bayar infaq sekolah anaknya yang cuma dua ribu saja perharinya. Ada yang bahagia bisa gonta-ganti baju mengikuti tren fashion jaman now dan upload otd misalnya, sedangkan beberapa meter dari rumahnya ada anak sekolah yang seragamnya sudah lusuh dan sobek di sana-sini.
Semua orang berhak koq kalau mau pamer, berbagi inspirasi, show off, sekedar berbagi kabar bahagia, atau apapun lah. Bebas. Kita tidak bisa mengatur apa yang orang lain ingin tunjukkan. Tapi kita bisa mengatur, memilah dan memilih apa yang akan kita tunjukkan. Mungkin kita sulit untuk selalu berempati, selalu menahan diri dari hal-hal yang memang manusiawi. Tapi, kita bisa melatih kepekaan hati dengan mencoba menempatkan sepatu orang lain di kaki kita. Dengan membayangkan seandainya kita ada di posisi orang yang tidak seberuntung kita. Mari kita mulai dari diri sendiri. 
Duhai Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, jadikan hati kami senantiasa berempati terhadap keadaan di sekeliling kami. Amiin
Wassalamualaikum


Cibiru, 250118, menjelang shubuh.

No comments:

Post a Comment