Pages

Friday, 24 January 2025

Random Post : Yogya Cianjur

Assalamualaikum.

Beberapa hari yang lalu kami (saya, suami dan si putri  bungsu) ga sengaja main ke Yogya Cianjur. Ga sengaja karena sesungguhnya malam itu rencananya kami hanya ingin jajan cemilan di dekat tempat tinggal kami. Karena di sepanjang jalan kami tidak juga menemukan apa yang kami mau, suami memutuskan kita ke Yogya saja, berburu roti H-1 yang diskon 20-50%. 

Aku ga terlalu berharap bisa dapat roti kadet keju kesukaanku karena saat itu sudah lewat maghrib, biasanya roti diskon tersisa satu atau dua saja. Tapi hari itu ternyata rotinya masih banyak. Aku memilih roti kadet keju, suami memilih roti coklat kesukaaannya, dan putriku mengambil cup cake pisang. Aku juga mengambil roti tawar jumbo untuk kedua jagoanku. 

Selain roti, kami juga membeli susu, biskuit, bumbu-bumbu dan beberapa barang lain yang hampir tiga perempatnya adalah makanan. Kondisi akhir bulan dan sebenarnya jatah jajan kami bulan ini sudah habis. Alhamdulillah, suami tetap meng-iya-kan, bersedia mengeluarkan uang lebih untuk jajan kami, Allahumma bariik. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki kepada beliau dan memudahkan segala urusannya.

Saat sampai di kasir, putriku memindahkan belanjaan dari trolley mini ke meja kasir. Saat itu ada ibu-ibu yang mungkin usianya 2-3 tahun di atasku (atau mungkin sebaya) sedang membayar belanjaannya. Beliau menatap putriku lekat, kemudian bertanya beberapa hal seperti "ini apa namanya?" ketika putriku memindahkan garam. Putriku menjawab setiap pertanyaan ibu itu sampai kemudian beliau pergi setelah membayar seluruh belanjaannya. Kami pun kemudian selesai membayar belanjaan kami.

Ketika keluar Yogya, karena males jalan ke parkiran, aku dan putriku duduk di selasar sambil menunggu suami mengambil kendaraan. Saat itu ibu yang tadi pun seertinya sama, menunggu suaminya mengambil kendaraan. Beliau mendekat dan mengajak putriku ngobrol lagi, bertanya "berapa usianya?","suka ngaji ga?", "suka main apa?"dan banyak lagi sampai kemudian beliau cerita bahwa beliau juga punya putri, dan meninggal sekitar sebulan yang lalu di usia 8 tahun. Beliau bilang beliau kangen almarhumah putrinya dan meminta ijin ingin memeluk putriku. Saat ku tanya putriku apakah dia bersedia dipeluk ibu itu, putriku menolak. Aku bilang kalau salam aja gimana, putriku bersedia. Tak lama kemudian ibu tersebut bertanya apakah putriku mau uang jajan. Putriku mengangguk, dan ibu tersebut memberikan sejumlah uang. Aku bengong, ingin menolak tapi beliau berkata "tolong jangan ditolak ya" sambil berkaca-kaca. Putriku menerima uang tersebut dan mengatakan terimakasih.

Saat itu suami si ibu sudah datang, mobilnya brhenti tepat di depan kami dan melihat semuanya. Beliau menurunkan kaca jendela mobilnya dan meminta maaf kepadaku. Kemudian saat si ibu membuka pintu, tapi kemudian beliau balik lagi dan menggendong putriku, sebentar saja, kemudian menurunkannya. Beliau bilang terimakasih dan dadah-dadah sambil melambaikan tangan. Putriku juga melambaikan tangan. Mobil ibu itu berlalu, dan aku melihatnya menangis.

Suamiku ternyata memperhatikan, beliau ada di belakang mobil ibu itu. Sambil jalan aku menceritakan semuanya. Suami mengingatkan tentang ujian orang itu memang berbeda-beda. Aku melihat ibu tersebut nampak sempurna. Cantik, modis, perhiasan di tangannya banyak, mobilnya mewah. Ternyata beliau kehilangan putrinya. Ujianku mungkin beda lagi, tapi setidaknya aku harus selalu bersyukur atas apa yang sudah Allah karuniakan kepadaku, salah satunya putriku ini. Masyaallah. 



No comments:

Post a Comment