Pages

Sunday, 9 February 2025

Homeschooling : Reset!

Assalamualaikum.

Keluarga kecil kami menjalani homescholling sejak sekitar enam tahun lalu. Saat itu, anak sulung kami mulai mogok sekolah PAUD, ingin bermain dan belajar sama Bunda aja di rumah. Katanya, bersama Bunda lebih seru. Kebetulan juga, saat itu aku tengah hamil besar dan menjelang melahirkan. Kondisi saat itu, aku tak bisa pergi mengantar jemput anakku, pakai motor, membawa adiknya yang baru lahir. Tak mungkin pula meninggalkan newborn di rumah sementara aku mengantar kakaknya sekolah. Tak ada yang bisa dititipi, juga tak ada yang bisa dimintai tolong mengantar jemput. Maka setelah melahirkan, kami mantap memutuskan anak kami berhenti sekolah dan lanjut belajar di rumah.

Awalnya, niat kami hanya akan belajar di rumah selama PAUD-TK saja, saat SD anak kami akan bersekolah formal. Tapi saat tiba anakku usia 7 tahun (bahkan lebih), anakku tetap menolak masuk sekolah formal. Sejak setahun sebelumnya, kami mengajaknya berkeliling ke SD-SD di sekitar tempat tinggal kami. Setelah mencari tahu berbagai informasi, kami datangi satu persatu sekolah yang masuk list kami, lihat gedung sekolahnya, lihat anak-anaknya berkegiatan, dan ikut trial-nya jika ada. Setiap berkunjung ke satu sekolah, aku selalu bertanya "Nak, mau sekolah di sini?". Dari mulai sekolah negeri terdekat, SDIT, sekolah tahfidz yang statusnya masih pkbm, hingga sekolah swasta yang biayanya rasanya di atas kemampuan finansial kami. Yang ini kami deg-degan, kalo ternyata anak kami memilih sekolah ini, Ayah-Bundanya harus bersiap mengencangkan ikat pinggang dan bekerja lebih keras. Tapi semuanya dijawab "Nggak! Mau sekolah di rumah aja sama Bunda."

Maka, keputusan lanjut homeschooling dipilih. Pencarian berpindah dari yang tadinya mencari SD formal menjadi mencari PKBM. Alhamdulillah sudah ada beberapa rekomendasi PKBM yang sering di review di komunitas homeschooling yang kami ikuti. Kami mulai membandingkan beberapa PKBM, dari akreditasinya, program yang ditawarkan, kewajiban hadir di lokasi, dan tentu saja biayanya. Alhamdulillah saat itu kami mantap mendaftarkan sulung kami ke salah satu PKBM di Salatiga. Jadi meski homeschooling, sulung kami tetap terdaftar di dapodik dan memiliki NISN. Andai suatu saat kami berubah haluan ingin pindah ke sekolah formal, insyaallah bisa. 

Kami melanjutkan petualangan belajar di rumah, kali ini lebih serius. Karena sudah masuk fase akademik, maka sesi belajar lebih terjadwal. Ada target yang harus kami selesaikan selama satu semester. Ada portofolio yang harus kami setorkan ke PKBM setiap akhir semester. Sulung kami juga mengikuti beberapa club online yang ada di PKBM. Meski begitu, kurikulum tetap kami susun sendiri. Lesson plan bulanan dan mingguan juga kami yang buat. Jadwal harian, buku referensi, web/aplikasi yang digunakan semua kami memutuskan sendiri. Repot, tapi senang. Capek, tapi bahagia. 

Hingga di akhir tahun ketiga, aku mulai merasa kewalahan. Dengan kehadiran newborn lagi, aku merasa kesulitan membagi waktu antara mengurus rumah, menjalankan homeshooling untuk si sulung, mengasuh anak tengah usia toddler, juga mengurus dan menyusui newborn. Sempat terpikir memasukkan si sulung ke sekolah formal, dan tentu saja dia menolak. Maka akhirnya kami memindahkannya ke pkbm lain yang memiliki jawal belajar rutin, ada kelas (daring) setiap hari, sudah disediakan kurikulum dan best part-nya adalah ini sekolah sunnah. Kami dikirim program tetap, program semester, RPP mingguan, hingga modul belajar. Setoran dan murajaah hafalan juga lebih terjaga. Tentu saja ada beberapa materi yang tidak diajarkan di kelas daring dan kami harus tetap mengajarkannya langsung atau mencari pengajar lain di luar pkbm. Sulung kami juga mulai banyak mengikuti lomba. Meski biayanya meningkat tiga kali lipat, Alhamdulillah sepadan dengan kemudahan dan kepuasan yang kami dapatkan.

Dua tahun kemudian, aku merasa kewalahan lagi. Aku merasa sangat lelah dan jenuh. Anak sulung sebagian besar waktu belajarnya masih di kelas daring PKBM. Aku lebih sibuk menemani anak tengah dan bungsu menjalani homeschooling anak usia dini. Ayahnya pun semakin sibuk dengan pekerjaannya, sehingga waktunya untuk mengajar homeschooling anak-anak semakin berkurang. Aku beberapa kali ingin menyerah. Dah lah sekolah formal aja semua. Kami banyak berdiskusi bahkan berdebat. Menimbang segala baik buruknya. Dan akhirnya kami memutuskan : lanjut homeschooling. 

Kami memutuskan untuk mengikuti workshop homeshooling dasar. Kami merasa perlu me-refresh ilmu tentang homeshooling yang selama ini aku pelajari dari berbagai sumber. Aku ingin mengulang belajar dari awal, yang runut, dari hal yang paling mendasar. Dan selesai mengikuti workhop ini, kami mulai menerapkannya di homeshooling keluarga kami. Kami mengubah banyak hal, termasuk rutinitas. Kami mengulang menyusun prioritas, dan yang paling penting kami meluruskan kembali niat menjalankan homeshooling ini. Maka di awal tahun 2025 ini, Homeschooling Arafi : Reset!


Saturday, 1 February 2025

Mess, Tempat Singgah Yang Bikin Betah

Assalamualaikum. 

Air cooler di kamar anak-anak menyala. Aku yang duduk di ruang tengah bisa mendengar suaranya yang seolah berbisik. Aku juga mendengar suara tv meskipun volumenya sudah paling rendah. Wajarlah, tv hanya berjarak sekitar tiga meter di depan ku. Ruang tengah yang sekaligus ruang tamu, ruang makan, ruang nonton tv, ruang belajar dan terkadang jadi tempat tidurku jika aku kegerahan di kamar kami tapi kedinginan di kamar anak-anak. 

Aku tinggal di mess salah satu sekolah berasrama di kota ini. Suami bekerja di sekolah ini, aku dan anak-anak diboyong semua ke sini. Saat wawancara terakhir dengan owner-nya lima tahun lalu, suamiku meminta waktu untuk mencari tempat tinggal dan menceritakan rencananya membawa seluruh anggota keluarga. Alhamdulillah ternyata akan disiapkan mess, katanya. Insyaallah bisa ditempati sebulan lagi.

Saat itu sekolah ini memang sudah mempunyai beberapa mess dan sedang membangun gedung mess khusus guru yang bisa menampung enam belas keluarga. Seluruh tiang dan plafon lantai 1 sudah ada, jadi tinggal meneruskan. Katanya, mereka membangun mess kami dalam waktu 26 hari saja. 

Saat kami datang, whuah, lokasi gedung mess ada di paling belakang. Alhamdulillah, mess kami ini mess no 1, jadi ga belakang banget. Lagipula masih ada workshop di ujung gedung mess yang langsung berbatasan dengan pagar. Mess kami cukup nyaman, model standar, mirip perumahan tipe 36 dengan kamar dua yang sebelahan, ruang tengah memanjang, dapur secimit dan kamar mandi. Alhamdulillah. 

Sebenarnya saat pertama kali lihat foto mess, yang dikirim oleh Bu HR saat bilang kalau mess sudah siap ditempati, aku merasa insyaallah aku bisa betah tinggal di mess, toh ga jauh beda dengan rumah kami saat itu yang memang tipe 36, beda posisi kamar mandi dan dapur saja. 

Saat itu kami bingung dimana parkir mobil. Maka suami ngide 'kavling' sebelah dijadikan tempat parkir saja. Suami sendiri yang membereskan aneka puing-puing, meratakan tanahnya agar lebih nyaman, sampe minjem itu pacul karena kami ga punya di sini.  Alhamdulillah setidaknya mobil kami ga kehujanan kepanasan.

Dan beginilah penampakan gedung mess yang nampak terbengkalai, tapi sesungguhnya bukan terbengkalai, hanya belum selesai pembangunannya. Mess kami paling depan, ke belakang itu ada 7 unit lagi. 

Selfi pertama di teras mess.

Selama beberapa bulan hanya kami yang tinggal di sini. Ada karyawan lain yang tinggal di mess, tapi mess nya berbeda gedung dengan kami. Meski ga punya tetangga, saat itu aku nyaman tinggal di sini. Setiap buka pintu, yang terlihat hijau pepohonan, sawah, dan kolam. Kami sering memetik kangkung dan genjer di depan mess, segar langsung ditumis.

Pemandangan tepat depan mess.

Pemandangan sisi kanan.
Langitnya asli loh ga di-edit.

Alhamdulillah beberapa bulan kemudian dibangun lagi tiga unit, sehingga ada 4 keluarga yang tinggal di sini. Beberapa bulan setelahnya dibangun lagi keseluruhan hingga akhirnya ada 16 unit. Alhamdulillah semakin ramai, punya tetangga, anak-anak punya teman bermain, bunda punya teman nyeblak dan ngaliwet. 

Saat ini kondisinya sudah jauh berbeda. Kolam tempat kami memetik kangkung sekarang sudah jadi kolam ikan, dengan pohon rambutan di depannya. Aku menyaksikan saat pohon rambutan itu di tanam (dari hasil cangkok) dan sekarang sudah berbuah, aku pun ikut menikmati buahnya. Pemandangan dari sisi kanan yang sebelumnya langsung ke AsPi, sekarang sudah terhalang bangunan Gedung Serba Guna. Nursery tempat dulu anak-anak melihat proses mengompos, memetik jambu, mengambil daun pandan untuk kolak saat ramadhan, sekarang sudah berubah menjadi Villa, tempat beristirahat para petinggi yayasan. Workshop dan gudang di belakang juga berubah. Gudangnya hilang, workshop masih ada namun lebih rapi dan tersembunyi. 

Kalau ada yang bertanya, apakah aku masih nyaman setelah lima tahun tinggal di mess ini. Aku akan menjawab nyaman-nyaman saja. Mess-nya sudah kubuat senyaman mungkin, ku dekor sesuai seleraku, ku tempatkan perabotan sesuai keinginanku. Tapi jika ada tawaran untuk pindah ke tempat lain yang lebih baik, tentu aku juga akan setuju. 



Thursday, 30 January 2025

Birth Story : Hana Punya Cerita (2)

 (part 1 di sini)

HPL (Hari Perkiraan Lahir) ku tanggal 25 Agustus 2020. Kami belum benar-benar memutuskan akan lahiran dimana. Rencana kami, jika tanggal 20 belum lahir, kami pulang ke Bandung. Jika tanda-tanda kelahiran mucul sebelum itu, berarti aku lahiran di Cianjur. Oh ya, opsi lahiran dengan dr. Wulan sudah aku coret sejak awal. Bukan masalah dokternya, tapi masalah tempatnya. Saat itu beliau hanya bisa membantu persalinan di RSDH saja, sementara di klinik hanya untuk pemeriksaan kehamilan dan praktik lainnya. Karena aku menghindari rumah sakit, otomatis pilihan ini tidak masuk ke rencanaku. Meski begitu, sampai usia kandungan 38 minggu aku masih kontrol ke beliau. 

Selasa malam tanggal 18 Agustus, sekitar isya, ada flek keluar. Perasaanku, tentu saja bahagia karena tanda lahir sudah tiba. Tapi aku juga cemas, khawatir dan gugup. Aku chat bidan Ajeng dan menceritakan kondisi saat itu bahwa aku sudah keluar flek namun belum ada kontraksi. Bidan Ajeng mengatakan untuk segera ke klinik jika kontraksi sudah 10 menit sekali. Saat itu aku pakai aplikasi penghitung kontraksi di handphone ku tapi aku lupa namanya. Menjelang tidur aku khawatir ketuban pecah dini seperti yang terjadi saat menjelang kelahiran Bana. Tapi alhamdulillah aku bisa tidur sampai subuh. Subuh aku mulai merasakan kontraksi yang semakin lama semakin kuat dan jedanya semakin sebentar. Aku duduk di gymbal sambil bergoyang-goyang. Aku juga masih sempat memandikan Bana dan membuat sarapan. Sekitar pukul 07.30 pagi kontraksi mulai 10 menit sekali, aku segera chat bidan Ajeng  dan meluncur ke klinik. 

Di perjalanan kami sempat mampir ke minimarket untuk beli cemilan Sina dan Bana. Hanya suami yang turun. Aku dan anak-anak menunggu di mobil. Saat itulah aku merasa kontraksi semakin menguat dan serasa tanpa jeda. Aku merasa suamiku lama sekali, beliau masih antri untuk bayar di kasir. Aku ingin berteriak agar beliau batalkan saja beli cemilan dan langsung ke klinik. Saat suami masuk mobil, ku katakan bahwa kontraksi sudah tanpa jeda dan aku mulai merasa ingin buang air besar. 

Suami agak panik. Alhamdulillah lokasi minimarket sudah dekat klinik, tidak sampai 100 meter. Kami segera ke linik. Sampai di depan klinik, suami mengajak aku turun. Tapi saat itu aku merasakan kontraksi sedang kuat dan menunggu ada jeda untuk berjalan masuk ke dalam klinik. Kutunggu-tunggu jeda itu tak ada. Aku bilang ayolah turun tapi sepertinya ga kuat.  Aku ingat beliau berkata :"Bun, masih tahan ga? Hayu turun. Waduh kalau bisa jangan lahiran di mobil." Haha.

Suami menuntunku masuk ke klinik. Kemudian balik lagi ke mobil mengambil Bana di carseat dan menuntun Sina. Saat masuk, ternyata bidan Ajeng sedang dalam perjalanan dari puskesmas. Ada asistennya yang langsung mengarahkanku untuk cek urin. Beliau memberikan wadah untuk sampel air seni. Aku mengambilnya kemudian masuk ke toilet. Aku mulai kesulitan berdiri setelah dari toilet karena kontraksi semakin menguat. Aku berbaring di bed ruang periksa kehamilan. Bidan Ajeng sudah datang dan langsung bersiap. beliau ijin untuk cek dalam, dan ternyata SUDAH BUKAAN SEMBILAN!!!! Iya bukaan sembilan. Bidan Ajeng mengatakan ayo ke ruang bersalin. Namun aku sudah tak sanggup berdiri. Kontraksi yang kuat dan rasa ingin mengejan membuatku kesulitan berpindah. Alhamdulillah beliau mengatakan :"Ya sudah, di sini saja." Entah apa yang beliau dan asistennya persiapkan aku sudah tak memperhatikan. 

Saat itu, Sina dan Bana menunggu di luar. Iya di luar ruang periksa. Mereka berdua saja tanpa ada yang menemani. Ibu dan Ateu masih dalam perjalanan menuju Cianjur. Saat sensasi ingin mengejan semakin kuat, bidan Ajeng memandu untuk aku tetap mengatur nafas. Kepala bayi sudah mulai keluar dan tiba-tiba Bana buka pintu ingin masuk. Asisten bu bidan sempat meminta anak-anak tetap di luar dan hendak menutup pintu. Namun Bana menangis "Mau ke Bunda.....".

Akhirnya Sina dan Bana masuk ke ruangan. Suami menggendong Bana sambil tetap berdiri di sampingku dan memegang erat tanganku. Sina pun berdiri di belakang ayahnya. Aku yang sedang mencoba mengatur nafas terdistraksi. Kepala bayi yang sudah sedikit keluar tertahan. Saat sensasi rasanya datang lagi, aku mengatur nafas lagi dan byuuuuuur bayi keluar pukul 08.46 WIB, tanpa mengejan, Alhamdulillah. Ya, kedua anakku menyaksikan saat air ketuban dan darah keluar bahkan sampai mengotori lantai. Aku sudah ceritakan ya bahwa aku lahiran di ruang periksa, bukan ruang bersalin dengan bed khusus yang ada bolongan tempat keluar cairan dan darah. 

Alhamdulillah, bayi perempuan langsung ditempelkan di dadaku. Yang kurasakan saat itu, lemas. Tak lama kemudian alhamdulillah plasenta lahir. Sesuai birth plan, tali pusat dibiarkan tetap terhubung dengan bayi. Beberapa menit kemudian, bu bidan memasang IUD. Aku tak ingat berapa lama kami melakukan IMD, tapi rasanya waktu itu bayiku belum sampai bisa menghisap puting susu. Bayiku kemudian dibersihkan, ditimbang dan diukur tingginya. Berat 4,1kg dan tinggi 50,5cm. Alhamdulillah. 

Bayiku, masih terhubung ke plasenta.

Aku lupa berapa lama aku istirahat di bed ruang periksa. Bu bidan mengatakan, jika aku sudah kuat, ayo mandi dan pindah ke ruang pemulihan. Aku meminta waktu karena aku merasa lemas. Diantara ketiga proses lahiran, aku merasakan kali ini paling  lemas. Hanya lemas, tidak pusing atau sakit. 

Ketika aku merasa sudah tak terlalu lemas, aku membersihkan diri, ganti baju dan beristirahat di ruang pemulihan. Tidak lama kemudian, Ateu datang. Suami pulang sejenak ke mess bersama Ateu dan anak-anak. Ibu kemudian datang, memelukku, menanyakan kondisiku. Beliau berkaca-kaca dan memujiku, membesarkan hatiku. Baru kemudian beliau melihat bayiku. 

Proses pemotongan tali pusat dengan dibakar

Aku tak ingat bagaimana dan berapa lama proses latihan menyusui. Aku hanya ingat proses memotong tali pusat. Alhamdulillah keinginanku untuk memotongnya dengan cara dibakar bisa terlaksana. Pertama lilin dipegang olehku dan suami, kemudian lilin yang aku pegang dilanjutkan dipegang oleh ibu. Pemotongan tali pusat ditunda sekitar 5 jam. Alhamdulillah. 

Hari itu juga aku bisa pulang ke mess. Alhamdulillah wa syukurillah. Alhamdulillah bayi lahir dengan sehat dan selamat, dan bayi itu kami panggil dengan nama "Hana".

Terimakasih bidan Ajeng, aku bisa lahiran dengan nyaman, tanpa mengejan, tanpa dijahit, langsung pasang IUD, penundaan pemotongan tali pusat, pemotongan tali pusat dengan dibakar. Ah semua sesuai keinginanku. Terimakasih suami, support sistem terbaik. Terimakasih Ya Allah, semuanya tak mungkin terjadi jika bukan kehendak-Mu. 

Ada banyak detail yang tak kutuliskan di sini. Insyaallah akan di update jika tiba-tiba teringat. 

Cerita lahiran Sina klik di sini

Cerita lahiran Bana klik di sini

Tuesday, 28 January 2025

Birth Story : Hana Punya Cerita (1)

Assalamualaikum.

Aku merasa bersalah sekali karena baru bisa menuliskan cerita ini hari ini, lebih dari tiga tahun sejak Hana lahir. 

November 2019, kami mengetahui bahwa aku mengandung anak ke-3. Saat itu usia Bana masih 16 bulan. Perasaanku campur aduk, khawatir karena Bana masih minum ASI, bingung karena kami akan pindah ke Cianjur. Sampai kami pindah ke Cianjur awal Januari 2020, keluarga besar belum kami kabari. 

Yang pertama kami lakukan adalah mencari dokter kandungan dan bidan yang "cocok" di Cianjur. Sejak masih di Bandung aku sudah mulai menelusuri sosial media. Hashtah #gentlebirth tentu saja masih menjadi fokusku saat itu. Sampai bulan Februari, aku belum cek kandungan sama sekali. Dan COVID menerjang!!!!!!

Kami memutuskan untuk kontrol kandungan di klinik dekat mess tempat tinggal kami. Alhamdulillah di sana dokter spesialis kandungan perempuan. dr, Wulan Nurmala Dewi, sp.OG. Kesan pertama melihat beliau dalah, takjub dengan pakaiannya. Gamis lebar dengan kerudung panjang di bawah bokong. Matanya cantik. Beliau mengenakan masker jadi hanya matanya yang terlihat. Karena saat itu covid, maka setiap kontrol aku hanya sendiri. Sebenarnya bisa ditemani 1 orang saja, tapi saat itu suami akan menunggu di mobil bersama Sina dan Bana. Karena tidak mungkin meninggalkan mereka berdua di mess. Saat itu kami juga belum ada teman atau tetangga yang bisa dititipi. Jadilah sampai menjelang kelahiran, aku selalu kontrol kandungan sendiri. 

Dokter kandungan aman sudah dapat. Selanjutnya adalah mencari bidan pro gentle birth. Ternyata sulit ya. Kami membuat rencana andai tidak menemukn bidan sesuai harapan di Cianju, aku lahiran di Bandung saja lah. Bidan Okke di Bumi Ambu (lahiran Sina) atau Bidan Farida di Bumi Sehat Bahagia (lahiran Bana). Aku chat beliau berdua, menanyakan apakah memungkinkan lahiran di sana tapi kontrol tiap bulan di Cianjur. Alhamdulillah keduanya membolehkan, dengan sebagala pembatasan karena saat itu sedang COVID.

Aku menemukan satu bidan Cianjur yang dari postingannya sepertinya pro gentle birth ya, meskipun beliau tidak secara langsung menegaskan beliau pro gentle birth. Namanya bidan Putri. Aku coba hubungi, alhamdulillah nyambung. Sayangnya, ternyata saat itu beliau sedang tidak praktek karena sedang hamil dan sakit. Tapi beliau merekomendasikan teman beliau yang menurut beliau sama-sama pro gentle birth, bidan Ajeng. Aku mengirim pesan ke beliau, mminta alamat lokasi prakteknya dan datang kesana. 

Kesan pertama bertemu, wah beliau masih muda, enakeun saat menjelaskan, bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang segambreng. Tentu saja langsung kuceritakan proses pencarianku mencari tempat lahiran pro-gentle birth. Ku ceritakan juga bagaimana proses lahiran Sina dan Bana, dan keinginanku untuk lahiran anak ketiga nanti. Dipertemuan pertama aku sudah menyodorkan birth plan padahal usia kandungan masih 5 bulanan. Beliau menjawab insyaallah bisa diusahakan. Lega.

Beliau bercerita kalau di Cianjur sini kalau yang begitu-begitu itu masih dianggap aneh. 
Kalau ada yang lahiran nunggu proses bukaan, "bu bidan kenapa ga diinfus? kenapa ga disuntik?". Menunggu kontraksi dan bukaan alami itu malah ada yang bilang "koq dibiarkan" katanya. Begitu pun dengan penundaan pemotongan tali pusat, aneh katanya koq ga langsung digunting. Aku bilang bahwa aku ingin proses pemotongan tali pusatnya dilakukan dengan cara dibakar, beliau bilang kalau di sini belum pernah, tapi beliau pernah melakukannya di tempat lain. Aman lah ya insyaallah, pikirku. 

Alhamdulillah pencarian bidan selesai, tapi masih ada sedikit yang mengganjal. Tempatnya. Ruang praktek yang agak berantakan dan sedikit berdebu. Barang-barang menumpuk di luar. Lampu yang kurang terang. Agak mengganggu ya menurutku, apalagi yang menjadi referensiku adalah tempat lahiranku sebelumnya. Tapi aku berusaha maklum. Beliau bilang bahwa saat itu mereka sedang dalam proses pindahan. Kemungkinan saat HPLku mereka suda di tempat yang baru. Baiklah, aku berusaha mengabaikannya, yang penting bidannya oke dan bersedia mewujudkan birth planku. 

Sejujurnya aku masih ragu, maka kami memikirkan kembali opsi lahiran di Bandung saja. Rencananya, jika tanda-tanda lahiran mulai ada, kami akan segera meluncur ke Bandung. Alhamdulillah saat itu kami masih ada kendaraan pribadi, lebih leluasa jika bepergian kemana saja, jam berapa saja. Saat pulang ke Bandung, sekitar usia kandungan 7 bulanan, aku sempat periksa ke klinik bedan yang cukup dekat dari rumah. Jika dilihat dari postingannya, cerita proses lahiran pasiem-pasiennya, sepertinya beliau pro gentle birth juga. Bidan Deti, namanya. Dan setelah periksa, konsultasi, menceritakan birth plan, aku rasa Bidan Deti bisa menjadi salah satu opsi jika akan melahirkan di Bandung, mengingat jaraknya yang dekat jika dibandingkan ke Bumi Ambu atau ke Bumi Sehat Bahagia. 

Bana kecil meniru rebozo :)

Selama kehamilan ini, aku periksa selang-seling antara ke dr. Wulan dan ke bidan Ajeng. Alhamdulillah kandunganku sehat. Aku juga tidak memiliki keluhan-keluhan yang berarti. Aku rajin olahraga. Saat itu karena tidak memungkinkan untuk berjalan cepat di luar ruangan, aku memilih untuk squat 150-200x sehari. Tentu aku kesulitan squat dengan perut besar dan badan yang gendut, berat. Maka aku mengaitkan samping (gendongan kain) ke pintu dan aku berpegangan setiap kali akan berdiri saat squat. Aku juga rajin duduk di gymbal sambi goyang-goyang pinggul. Main hp, nonton, baca buku kulakukan di atas gymball. Sesekali berlatih rebozo. Bagaimanapun, kuusahakan impianku untuk melahirkan dengan aman, nyaman, minim rasa sakit, dan bahagia. Aku juga mengontrol porsi makanku, kuusahakan hanya makanan bergizi yang masuk ke tubuhku dan janinku. Ku kencangkan ibadahku, ku langitkan doa-doa dan harapan akan pertolongan Allah dalam proses lahiranku. 

Hingga tanda lahiran itu hadir....

(lanjut part 2 di sini)


Saturday, 25 January 2025

Flexing Paling Mahal

Assalamualaikum.

Beberapa hari aku menemukan sebuah postingan tentang flexing paling mahal di feed IG ku. Aku tertarik dan langsung meng-screenshot tulisan itu. Berbicara tentang flexing, aku menghubungkannya dengan mereka yang suka update status Whatsapp atau story IG. Aku sendiri sudah berhenti menulis status WA sejak sekitar tiga tahun lalu.

Dulu aku termasuk yang sering update status WA. Kadang foto kegiatan sehari-hariku di mess, kegiatan homeschooling anak-anak, pergi kemana, atau sekedar tulisan perasaanku hari itu. Seingatku, tak ada niat pamer sama sekali saat aku membagikan status-status tersebut. 

Tapi kemudian suatu hari, ada teman lama kami yang berkunjung, sesama homeschooler. Setelah bercerita ini itu, beliau kemudian bercerita bahwa beliau pernah merasa sakit sekali melihat update statusku tentang homeschooling kami. Katanya, beliau merasa terintimidasi, merasa apa yang mereka lakukan tidak sehebat yang kami lakukan. Beliau sedih sekali dan merasa bersalah kepada anak-anaknya. 

Aku tertohok, mendadak sulit menelan cemilan tahu sumedang yang saat itu sedang ku nikmati. Aku meminta maaf, menjelaskan bahwa tak ada niat sama sekali untuk pamer, menyindir, atau merasa lebih hebat dari beliau. Setelah hari itu, setiap kali akan update, aku selalu teringat. Aku selalu takut ada orang yang merasa tersakiti dengan status-statusku. Aku sempat meng-hide temanku yang itu dan lanjut update status. Tapi semakin lama aku tak nyaman sampai akhirnya aku berhenti. Tak pernah update status sama sekali. 

Aku menceritakan kegelisahanku pada suami. Suami sih, memang sejak dulu tak pernah update-update apapun, kecuali yang berupa pengumuman atau sesuatu yang terkait pekerjaannnnya. Saat itu beliau bertanya, apa sesungguhnya yang diinginkan ketika kita update status itu. Bukankah memang ingin dilihat orang lain, ingin orang lain tahu kita sudah melakukan apa, kita punya pencapaian apa, rencana apa. Ya itu flexing kan, menurut beliau. Jika tujuannya ingin mendokumentasikan sesuatu, menurut beliau cukup di galeri hp kemudian back up ke drive atau cloud atau semacamnya, jika khawatir hilang. 

Kupikir-pikir, suamiku benar juga. Dan keinginanku untuk update pun semakin lama semakin hilang, semakin nyaman dengan kehidupan yang private. Sesekali aku masih update untuk keperluan pekerjaanku, tapi tidak dengan kehidupan sehari-hari keluarga kami.  Kami sempat liburan seminggu ke Yogya, dan aku berhasil tidak update status satupun, apalagi suami. Bahkan rekan kerja suami bilang, suami tuh 'cuma' kurang flexing aja dalam menghadapi hari-harinya di tempat kerja. Haha.

Tapi biarlah kali ini aku flexing di sini, toh ga ada yang baca juga. Somehow aku bersyukur blog ini sepi pengunjung. Kembali ke postingan seseorang tentang flexing paling mahal, ternyata yang dia tulis, biidznillah aku memilikinya.  Alhamdulillah terimakasih Ya Allah, atas segala karunia, kemudahan, kebahagian yang Engkau berikan kepada kami. Aku bahagia, aku bangga, dan aku akan menjaga semuanya tetap tersembunyi. Aku flexingnya di sini saja, sekali saja.