Pages

Thursday, 30 January 2025

Birth Story : Hana Punya Cerita (2)

 (part 1 di sini)

HPL (Hari Perkiraan Lahir) ku tanggal 25 Agustus 2020. Kami belum benar-benar memutuskan akan lahiran dimana. Rencana kami, jika tanggal 20 belum lahir, kami pulang ke Bandung. Jika tanda-tanda kelahiran mucul sebelum itu, berarti aku lahiran di Cianjur. Oh ya, opsi lahiran dengan dr. Wulan sudah aku coret sejak awal. Bukan masalah dokternya, tapi masalah tempatnya. Saat itu beliau hanya bisa membantu persalinan di RSDH saja, sementara di klinik hanya untuk pemeriksaan kehamilan dan praktik lainnya. Karena aku menghindari rumah sakit, otomatis pilihan ini tidak masuk ke rencanaku. Meski begitu, sampai usia kandungan 38 minggu aku masih kontrol ke beliau. 

Selasa malam tanggal 18 Agustus, sekitar isya, ada flek keluar. Perasaanku, tentu saja bahagia karena tanda lahir sudah tiba. Tapi aku juga cemas, khawatir dan gugup. Aku chat bidan Ajeng dan menceritakan kondisi saat itu bahwa aku sudah keluar flek namun belum ada kontraksi. Bidan Ajeng mengatakan untuk segera ke klinik jika kontraksi sudah 10 menit sekali. Saat itu aku pakai aplikasi penghitung kontraksi di handphone ku tapi aku lupa namanya. Menjelang tidur aku khawatir ketuban pecah dini seperti yang terjadi saat menjelang kelahiran Bana. Tapi alhamdulillah aku bisa tidur sampai subuh. Subuh aku mulai merasakan kontraksi yang semakin lama semakin kuat dan jedanya semakin sebentar. Aku duduk di gymbal sambil bergoyang-goyang. Aku juga masih sempat memandikan Bana dan membuat sarapan. Sekitar pukul 07.30 pagi kontraksi mulai 10 menit sekali, aku segera chat bidan Ajeng  dan meluncur ke klinik. 

Di perjalanan kami sempat mampir ke minimarket untuk beli cemilan Sina dan Bana. Hanya suami yang turun. Aku dan anak-anak menunggu di mobil. Saat itulah aku merasa kontraksi semakin menguat dan serasa tanpa jeda. Aku merasa suamiku lama sekali, beliau masih antri untuk bayar di kasir. Aku ingin berteriak agar beliau batalkan saja beli cemilan dan langsung ke klinik. Saat suami masuk mobil, ku katakan bahwa kontraksi sudah tanpa jeda dan aku mulai merasa ingin buang air besar. 

Suami agak panik. Alhamdulillah lokasi minimarket sudah dekat klinik, tidak sampai 100 meter. Kami segera ke linik. Sampai di depan klinik, suami mengajak aku turun. Tapi saat itu aku merasakan kontraksi sedang kuat dan menunggu ada jeda untuk berjalan masuk ke dalam klinik. Kutunggu-tunggu jeda itu tak ada. Aku bilang ayolah turun tapi sepertinya ga kuat.  Aku ingat beliau berkata :"Bun, masih tahan ga? Hayu turun. Waduh kalau bisa jangan lahiran di mobil." Haha.

Suami menuntunku masuk ke klinik. Kemudian balik lagi ke mobil mengambil Bana di carseat dan menuntun Sina. Saat masuk, ternyata bidan Ajeng sedang dalam perjalanan dari puskesmas. Ada asistennya yang langsung mengarahkanku untuk cek urin. Beliau memberikan wadah untuk sampel air seni. Aku mengambilnya kemudian masuk ke toilet. Aku mulai kesulitan berdiri setelah dari toilet karena kontraksi semakin menguat. Aku berbaring di bed ruang periksa kehamilan. Bidan Ajeng sudah datang dan langsung bersiap. beliau ijin untuk cek dalam, dan ternyata SUDAH BUKAAN SEMBILAN!!!! Iya bukaan sembilan. Bidan Ajeng mengatakan ayo ke ruang bersalin. Namun aku sudah tak sanggup berdiri. Kontraksi yang kuat dan rasa ingin mengejan membuatku kesulitan berpindah. Alhamdulillah beliau mengatakan :"Ya sudah, di sini saja." Entah apa yang beliau dan asistennya persiapkan aku sudah tak memperhatikan. 

Saat itu, Sina dan Bana menunggu di luar. Iya di luar ruang periksa. Mereka berdua saja tanpa ada yang menemani. Ibu dan Ateu masih dalam perjalanan menuju Cianjur. Saat sensasi ingin mengejan semakin kuat, bidan Ajeng memandu untuk aku tetap mengatur nafas. Kepala bayi sudah mulai keluar dan tiba-tiba Bana buka pintu ingin masuk. Asisten bu bidan sempat meminta anak-anak tetap di luar dan hendak menutup pintu. Namun Bana menangis "Mau ke Bunda.....".

Akhirnya Sina dan Bana masuk ke ruangan. Suami menggendong Bana sambil tetap berdiri di sampingku dan memegang erat tanganku. Sina pun berdiri di belakang ayahnya. Aku yang sedang mencoba mengatur nafas terdistraksi. Kepala bayi yang sudah sedikit keluar tertahan. Saat sensasi rasanya datang lagi, aku mengatur nafas lagi dan byuuuuuur bayi keluar pukul 08.46 WIB, tanpa mengejan, Alhamdulillah. Ya, kedua anakku menyaksikan saat air ketuban dan darah keluar bahkan sampai mengotori lantai. Aku sudah ceritakan ya bahwa aku lahiran di ruang periksa, bukan ruang bersalin dengan bed khusus yang ada bolongan tempat keluar cairan dan darah. 

Alhamdulillah, bayi perempuan langsung ditempelkan di dadaku. Yang kurasakan saat itu, lemas. Tak lama kemudian alhamdulillah plasenta lahir. Sesuai birth plan, tali pusat dibiarkan tetap terhubung dengan bayi. Beberapa menit kemudian, bu bidan memasang IUD. Aku tak ingat berapa lama kami melakukan IMD, tapi rasanya waktu itu bayiku belum sampai bisa menghisap puting susu. Bayiku kemudian dibersihkan, ditimbang dan diukur tingginya. Berat 4,1kg dan tinggi 50,5cm. Alhamdulillah. 

Bayiku, masih terhubung ke plasenta.

Aku lupa berapa lama aku istirahat di bed ruang periksa. Bu bidan mengatakan, jika aku sudah kuat, ayo mandi dan pindah ke ruang pemulihan. Aku meminta waktu karena aku merasa lemas. Diantara ketiga proses lahiran, aku merasakan kali ini paling  lemas. Hanya lemas, tidak pusing atau sakit. 

Ketika aku merasa sudah tak terlalu lemas, aku membersihkan diri, ganti baju dan beristirahat di ruang pemulihan. Tidak lama kemudian, Ateu datang. Suami pulang sejenak ke mess bersama Ateu dan anak-anak. Ibu kemudian datang, memelukku, menanyakan kondisiku. Beliau berkaca-kaca dan memujiku, membesarkan hatiku. Baru kemudian beliau melihat bayiku. 

Proses pemotongan tali pusat dengan dibakar

Aku tak ingat bagaimana dan berapa lama proses latihan menyusui. Aku hanya ingat proses memotong tali pusat. Alhamdulillah keinginanku untuk memotongnya dengan cara dibakar bisa terlaksana. Pertama lilin dipegang olehku dan suami, kemudian lilin yang aku pegang dilanjutkan dipegang oleh ibu. Pemotongan tali pusat ditunda sekitar 5 jam. Alhamdulillah. 

Hari itu juga aku bisa pulang ke mess. Alhamdulillah wa syukurillah. Alhamdulillah bayi lahir dengan sehat dan selamat, dan bayi itu kami panggil dengan nama "Hana".

Terimakasih bidan Ajeng, aku bisa lahiran dengan nyaman, tanpa mengejan, tanpa dijahit, langsung pasang IUD, penundaan pemotongan tali pusat, pemotongan tali pusat dengan dibakar. Ah semua sesuai keinginanku. Terimakasih suami, support sistem terbaik. Terimakasih Ya Allah, semuanya tak mungkin terjadi jika bukan kehendak-Mu. 

Ada banyak detail yang tak kutuliskan di sini. Insyaallah akan di update jika tiba-tiba teringat. 

Cerita lahiran Sina klik di sini

Cerita lahiran Bana klik di sini

Tuesday, 28 January 2025

Birth Story : Hana Punya Cerita (1)

Assalamualaikum.

Aku merasa bersalah sekali karena baru bisa menuliskan cerita ini hari ini, lebih dari tiga tahun sejak Hana lahir. 

November 2019, kami mengetahui bahwa aku mengandung anak ke-3. Saat itu usia Bana masih 16 bulan. Perasaanku campur aduk, khawatir karena Bana masih minum ASI, bingung karena kami akan pindah ke Cianjur. Sampai kami pindah ke Cianjur awal Januari 2020, keluarga besar belum kami kabari. 

Yang pertama kami lakukan adalah mencari dokter kandungan dan bidan yang "cocok" di Cianjur. Sejak masih di Bandung aku sudah mulai menelusuri sosial media. Hashtah #gentlebirth tentu saja masih menjadi fokusku saat itu. Sampai bulan Februari, aku belum cek kandungan sama sekali. Dan COVID menerjang!!!!!!

Kami memutuskan untuk kontrol kandungan di klinik dekat mess tempat tinggal kami. Alhamdulillah di sana dokter spesialis kandungan perempuan. dr, Wulan Nurmala Dewi, sp.OG. Kesan pertama melihat beliau dalah, takjub dengan pakaiannya. Gamis lebar dengan kerudung panjang di bawah bokong. Matanya cantik. Beliau mengenakan masker jadi hanya matanya yang terlihat. Karena saat itu covid, maka setiap kontrol aku hanya sendiri. Sebenarnya bisa ditemani 1 orang saja, tapi saat itu suami akan menunggu di mobil bersama Sina dan Bana. Karena tidak mungkin meninggalkan mereka berdua di mess. Saat itu kami juga belum ada teman atau tetangga yang bisa dititipi. Jadilah sampai menjelang kelahiran, aku selalu kontrol kandungan sendiri. 

Dokter kandungan aman sudah dapat. Selanjutnya adalah mencari bidan pro gentle birth. Ternyata sulit ya. Kami membuat rencana andai tidak menemukn bidan sesuai harapan di Cianju, aku lahiran di Bandung saja lah. Bidan Okke di Bumi Ambu (lahiran Sina) atau Bidan Farida di Bumi Sehat Bahagia (lahiran Bana). Aku chat beliau berdua, menanyakan apakah memungkinkan lahiran di sana tapi kontrol tiap bulan di Cianjur. Alhamdulillah keduanya membolehkan, dengan sebagala pembatasan karena saat itu sedang COVID.

Aku menemukan satu bidan Cianjur yang dari postingannya sepertinya pro gentle birth ya, meskipun beliau tidak secara langsung menegaskan beliau pro gentle birth. Namanya bidan Putri. Aku coba hubungi, alhamdulillah nyambung. Sayangnya, ternyata saat itu beliau sedang tidak praktek karena sedang hamil dan sakit. Tapi beliau merekomendasikan teman beliau yang menurut beliau sama-sama pro gentle birth, bidan Ajeng. Aku mengirim pesan ke beliau, mminta alamat lokasi prakteknya dan datang kesana. 

Kesan pertama bertemu, wah beliau masih muda, enakeun saat menjelaskan, bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang segambreng. Tentu saja langsung kuceritakan proses pencarianku mencari tempat lahiran pro-gentle birth. Ku ceritakan juga bagaimana proses lahiran Sina dan Bana, dan keinginanku untuk lahiran anak ketiga nanti. Dipertemuan pertama aku sudah menyodorkan birth plan padahal usia kandungan masih 5 bulanan. Beliau menjawab insyaallah bisa diusahakan. Lega.

Beliau bercerita kalau di Cianjur sini kalau yang begitu-begitu itu masih dianggap aneh. 
Kalau ada yang lahiran nunggu proses bukaan, "bu bidan kenapa ga diinfus? kenapa ga disuntik?". Menunggu kontraksi dan bukaan alami itu malah ada yang bilang "koq dibiarkan" katanya. Begitu pun dengan penundaan pemotongan tali pusat, aneh katanya koq ga langsung digunting. Aku bilang bahwa aku ingin proses pemotongan tali pusatnya dilakukan dengan cara dibakar, beliau bilang kalau di sini belum pernah, tapi beliau pernah melakukannya di tempat lain. Aman lah ya insyaallah, pikirku. 

Alhamdulillah pencarian bidan selesai, tapi masih ada sedikit yang mengganjal. Tempatnya. Ruang praktek yang agak berantakan dan sedikit berdebu. Barang-barang menumpuk di luar. Lampu yang kurang terang. Agak mengganggu ya menurutku, apalagi yang menjadi referensiku adalah tempat lahiranku sebelumnya. Tapi aku berusaha maklum. Beliau bilang bahwa saat itu mereka sedang dalam proses pindahan. Kemungkinan saat HPLku mereka suda di tempat yang baru. Baiklah, aku berusaha mengabaikannya, yang penting bidannya oke dan bersedia mewujudkan birth planku. 

Sejujurnya aku masih ragu, maka kami memikirkan kembali opsi lahiran di Bandung saja. Rencananya, jika tanda-tanda lahiran mulai ada, kami akan segera meluncur ke Bandung. Alhamdulillah saat itu kami masih ada kendaraan pribadi, lebih leluasa jika bepergian kemana saja, jam berapa saja. Saat pulang ke Bandung, sekitar usia kandungan 7 bulanan, aku sempat periksa ke klinik bedan yang cukup dekat dari rumah. Jika dilihat dari postingannya, cerita proses lahiran pasiem-pasiennya, sepertinya beliau pro gentle birth juga. Bidan Deti, namanya. Dan setelah periksa, konsultasi, menceritakan birth plan, aku rasa Bidan Deti bisa menjadi salah satu opsi jika akan melahirkan di Bandung, mengingat jaraknya yang dekat jika dibandingkan ke Bumi Ambu atau ke Bumi Sehat Bahagia. 

Bana kecil meniru rebozo :)

Selama kehamilan ini, aku periksa selang-seling antara ke dr. Wulan dan ke bidan Ajeng. Alhamdulillah kandunganku sehat. Aku juga tidak memiliki keluhan-keluhan yang berarti. Aku rajin olahraga. Saat itu karena tidak memungkinkan untuk berjalan cepat di luar ruangan, aku memilih untuk squat 150-200x sehari. Tentu aku kesulitan squat dengan perut besar dan badan yang gendut, berat. Maka aku mengaitkan samping (gendongan kain) ke pintu dan aku berpegangan setiap kali akan berdiri saat squat. Aku juga rajin duduk di gymbal sambi goyang-goyang pinggul. Main hp, nonton, baca buku kulakukan di atas gymball. Sesekali berlatih rebozo. Bagaimanapun, kuusahakan impianku untuk melahirkan dengan aman, nyaman, minim rasa sakit, dan bahagia. Aku juga mengontrol porsi makanku, kuusahakan hanya makanan bergizi yang masuk ke tubuhku dan janinku. Ku kencangkan ibadahku, ku langitkan doa-doa dan harapan akan pertolongan Allah dalam proses lahiranku. 

Hingga tanda lahiran itu hadir....

(lanjut part 2 di sini)


Saturday, 25 January 2025

Flexing Paling Mahal

Assalamualaikum.

Beberapa hari aku menemukan sebuah postingan tentang flexing paling mahal di feed IG ku. Aku tertarik dan langsung meng-screenshot tulisan itu. Berbicara tentang flexing, aku menghubungkannya dengan mereka yang suka update status Whatsapp atau story IG. Aku sendiri sudah berhenti menulis status WA sejak sekitar tiga tahun lalu.

Dulu aku termasuk yang sering update status WA. Kadang foto kegiatan sehari-hariku di mess, kegiatan homeschooling anak-anak, pergi kemana, atau sekedar tulisan perasaanku hari itu. Seingatku, tak ada niat pamer sama sekali saat aku membagikan status-status tersebut. 

Tapi kemudian suatu hari, ada teman lama kami yang berkunjung, sesama homeschooler. Setelah bercerita ini itu, beliau kemudian bercerita bahwa beliau pernah merasa sakit sekali melihat update statusku tentang homeschooling kami. Katanya, beliau merasa terintimidasi, merasa apa yang mereka lakukan tidak sehebat yang kami lakukan. Beliau sedih sekali dan merasa bersalah kepada anak-anaknya. 

Aku tertohok, mendadak sulit menelan cemilan tahu sumedang yang saat itu sedang ku nikmati. Aku meminta maaf, menjelaskan bahwa tak ada niat sama sekali untuk pamer, menyindir, atau merasa lebih hebat dari beliau. Setelah hari itu, setiap kali akan update, aku selalu teringat. Aku selalu takut ada orang yang merasa tersakiti dengan status-statusku. Aku sempat meng-hide temanku yang itu dan lanjut update status. Tapi semakin lama aku tak nyaman sampai akhirnya aku berhenti. Tak pernah update status sama sekali. 

Aku menceritakan kegelisahanku pada suami. Suami sih, memang sejak dulu tak pernah update-update apapun, kecuali yang berupa pengumuman atau sesuatu yang terkait pekerjaannnnya. Saat itu beliau bertanya, apa sesungguhnya yang diinginkan ketika kita update status itu. Bukankah memang ingin dilihat orang lain, ingin orang lain tahu kita sudah melakukan apa, kita punya pencapaian apa, rencana apa. Ya itu flexing kan, menurut beliau. Jika tujuannya ingin mendokumentasikan sesuatu, menurut beliau cukup di galeri hp kemudian back up ke drive atau cloud atau semacamnya, jika khawatir hilang. 

Kupikir-pikir, suamiku benar juga. Dan keinginanku untuk update pun semakin lama semakin hilang, semakin nyaman dengan kehidupan yang private. Sesekali aku masih update untuk keperluan pekerjaanku, tapi tidak dengan kehidupan sehari-hari keluarga kami.  Kami sempat liburan seminggu ke Yogya, dan aku berhasil tidak update status satupun, apalagi suami. Bahkan rekan kerja suami bilang, suami tuh 'cuma' kurang flexing aja dalam menghadapi hari-harinya di tempat kerja. Haha.

Tapi biarlah kali ini aku flexing di sini, toh ga ada yang baca juga. Somehow aku bersyukur blog ini sepi pengunjung. Kembali ke postingan seseorang tentang flexing paling mahal, ternyata yang dia tulis, biidznillah aku memilikinya.  Alhamdulillah terimakasih Ya Allah, atas segala karunia, kemudahan, kebahagian yang Engkau berikan kepada kami. Aku bahagia, aku bangga, dan aku akan menjaga semuanya tetap tersembunyi. Aku flexingnya di sini saja, sekali saja. 


Friday, 24 January 2025

Random Post : Yogya Cianjur

Assalamualaikum.

Beberapa hari yang lalu kami (saya, suami dan si putri  bungsu) ga sengaja main ke Yogya Cianjur. Ga sengaja karena sesungguhnya malam itu rencananya kami hanya ingin jajan cemilan di dekat tempat tinggal kami. Karena di sepanjang jalan kami tidak juga menemukan apa yang kami mau, suami memutuskan kita ke Yogya saja, berburu roti H-1 yang diskon 20-50%. 

Aku ga terlalu berharap bisa dapat roti kadet keju kesukaanku karena saat itu sudah lewat maghrib, biasanya roti diskon tersisa satu atau dua saja. Tapi hari itu ternyata rotinya masih banyak. Aku memilih roti kadet keju, suami memilih roti coklat kesukaaannya, dan putriku mengambil cup cake pisang. Aku juga mengambil roti tawar jumbo untuk kedua jagoanku. 

Selain roti, kami juga membeli susu, biskuit, bumbu-bumbu dan beberapa barang lain yang hampir tiga perempatnya adalah makanan. Kondisi akhir bulan dan sebenarnya jatah jajan kami bulan ini sudah habis. Alhamdulillah, suami tetap meng-iya-kan, bersedia mengeluarkan uang lebih untuk jajan kami, Allahumma bariik. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki kepada beliau dan memudahkan segala urusannya.

Saat sampai di kasir, putriku memindahkan belanjaan dari trolley mini ke meja kasir. Saat itu ada ibu-ibu yang mungkin usianya 2-3 tahun di atasku (atau mungkin sebaya) sedang membayar belanjaannya. Beliau menatap putriku lekat, kemudian bertanya beberapa hal seperti "ini apa namanya?" ketika putriku memindahkan garam. Putriku menjawab setiap pertanyaan ibu itu sampai kemudian beliau pergi setelah membayar seluruh belanjaannya. Kami pun kemudian selesai membayar belanjaan kami.

Ketika keluar Yogya, karena males jalan ke parkiran, aku dan putriku duduk di selasar sambil menunggu suami mengambil kendaraan. Saat itu ibu yang tadi pun seertinya sama, menunggu suaminya mengambil kendaraan. Beliau mendekat dan mengajak putriku ngobrol lagi, bertanya "berapa usianya?","suka ngaji ga?", "suka main apa?"dan banyak lagi sampai kemudian beliau cerita bahwa beliau juga punya putri, dan meninggal sekitar sebulan yang lalu di usia 8 tahun. Beliau bilang beliau kangen almarhumah putrinya dan meminta ijin ingin memeluk putriku. Saat ku tanya putriku apakah dia bersedia dipeluk ibu itu, putriku menolak. Aku bilang kalau salam aja gimana, putriku bersedia. Tak lama kemudian ibu tersebut bertanya apakah putriku mau uang jajan. Putriku mengangguk, dan ibu tersebut memberikan sejumlah uang. Aku bengong, ingin menolak tapi beliau berkata "tolong jangan ditolak ya" sambil berkaca-kaca. Putriku menerima uang tersebut dan mengatakan terimakasih.

Saat itu suami si ibu sudah datang, mobilnya brhenti tepat di depan kami dan melihat semuanya. Beliau menurunkan kaca jendela mobilnya dan meminta maaf kepadaku. Kemudian saat si ibu membuka pintu, tapi kemudian beliau balik lagi dan menggendong putriku, sebentar saja, kemudian menurunkannya. Beliau bilang terimakasih dan dadah-dadah sambil melambaikan tangan. Putriku juga melambaikan tangan. Mobil ibu itu berlalu, dan aku melihatnya menangis.

Suamiku ternyata memperhatikan, beliau ada di belakang mobil ibu itu. Sambil jalan aku menceritakan semuanya. Suami mengingatkan tentang ujian orang itu memang berbeda-beda. Aku melihat ibu tersebut nampak sempurna. Cantik, modis, perhiasan di tangannya banyak, mobilnya mewah. Ternyata beliau kehilangan putrinya. Ujianku mungkin beda lagi, tapi setidaknya aku harus selalu bersyukur atas apa yang sudah Allah karuniakan kepadaku, salah satunya putriku ini. Masyaallah. 



Wednesday, 15 January 2025

Memulai 2025 : Aspirasi, Intensi, Bekal Ilmu dan Penghargaan Diri

Dalam satu kata, aku ingin tahun 2025 menjadi tahun yang "TENANG".  

Tenang jiwaku, tenang hari-hariku


Definisi keberhasilan/kesuksesan tahun 2025 bagiku adalah ...

- Bisa mengontrol amarah

- Bisa mengatur waktu, mendahulukan prioritas.

- Bisa menjaga kesehatan (fisik dan mental) dengan makan sehat, olahraga teratur, tidur yang cukup, beribadah dengan baik, rutin baca Al-Quran, tak meninggalkan dzikir pagi dan petang.

- Bisa menemani anak-anak dengan mind-full, menjalankan homeschooling dengan sadar dan sesuai lesson plan.

- Bisa menurunkan berat badan setidaknya sampai di 70kg.

- Bisa mulai ngonten dan konsisten.

- Bisa punya penghasilan sendiri, entah darimana dan bagimana caranya. 


Yang ingin aku pelajari selama 12 bulan ke depan adalah ...

- Terjemah Al-Quran, belajar tamyiz lebih serius. 

- Speak English, latihan ngomong dan ngomong.

- Ngonten. Praktik step by step dari kelas yang sudah diikuti. 

- Homeschooling dasar, usia dini dan kontinum pijakan. Melanjutkan kelas yang sedang diikuti sekarang.

- Journaling, konsisten menulis di blog.

- Kamsutra Advance!


Yang aku lakukan untuk menjaga dan menghargai diri di tahun 2025 adalah ...

Fisik

- Bangun sebelum subuh, langsung mandi kalau bisa. 

- Yoga atau olahraga ringan lain sebelum sarapan.

- Berjemur.

- Saum qodo ( sekalian intermitten fasting, qodo di awal, tidak mepet ramadhan berikutnya)

- Makan sehat kurangi minyak, tepung dan gula.

- Tidur sebelum jam 10 malam.

Emosi

- Menghindar sejenak jika emosi mulai terpancing. 

- Olah nafas dan dzikir.

Pikiran 

- Journaling, terutama to do list dan jurnal syukur.

- Belajar ga terlalu peduli orang lain di luar keluarga inti.

- Cerita ke suami jika ada yang mengganggu.

Spiritual

- Sholat di awal waktu.

- Tilawah Al-Quran setiap hari.

- Dzikir pagi petang

- Puasa senin-kamis (qodo dulu).


Dukungan yang aku butuhkan dalam satu tahun ke depan adalah....

- Mau dibantuin HS anak-anak, terutama sesi belajar hijaiyah, tilawah, pembiasaan-pembiasaan baik. Aku sering merasa tak sanggup jika sendiri.

- Aku perlu ruang yang aman untukku bisa mengelola emosi yang sulit. Bentuknya seperti apa, aku belum tahu.

- Uang. Haha. Bagaimana pun tetap saja dukungan dalam entuk materi akan sangat menyenangkan.