Assalamualaikum.
Post sebelum ini, rencananya akan menuliskan materi prinsip paud, tapi baru prolognya aja udah bikin berlinang air mata dan bisa jadi tulisan random curhat tentang homeschooling. Kali ini, aku akan benar menuliskannya di blog sebagai sarana mengikat ilmu yang mudah diakses kapan saja dimana saja.
Berorientasi Pada Perkembangan Anak
Prinsip pendidikan anak usia dini yang pertama adalah berorientasi pada perkembangan anak. Kita sediakan apa yang dibutuhkan oleh anak, bukan apa yang digariskan di kurikulum. perkembangan setiap anak berbeda, maka cukup fokus pada perkembangan anak sendiri apakah sudah sesuai usianya atau belum.
Ketika mengintip STTPA (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak) kemudian membandingkan dengan kemampuan Hana (4-5 tahun) saat ini, aku cukup tertohok. Ternyata masih banyak yang belum meemnuhi standar. Aku sudah memiliki STTPA ini sejak jaman dahulu kala, tapi masih belum rutin mengecek perkembangan anak-anak. Di aspek perkembangan moral dan nilai-nilai agama, PR Hana cukup banyak. Aku belum mengenalkannya agama-agama lain yang ada di Indonesia, tempat ibadahnya, hari besarnya. Selama ini hanya agama sendiri lah yang dikenalkan. Aku cukup puas di aspek sosial, emosional dan kemandirian. Semuanya terceklis. Toilet training bagian bisa membersihkan sendiri (cebok) setelah buang air besar baru saja lulus. Sebulan lalu Hana masih berteriak memanggil ketika selesai, dan masih aku yang membersihkan. PRnya ketika di luar rumah yang toiletnya tidak ada bidet atau shower karena belum bisa pakai gayung. Bana pun masih kesulitan jika harus menggunakan gayung.
Berorientasi Pada Kebutuhan Anak (Fisik dan Psikis)
Contoh yang sering disebutkan adalah ketika seorang anak berusia empat tahun diminta duduk tenang selama tiga puluh menit, misalnya untuk belajar Iqra, apakah bisa? kalau bisa, alhamdulillah. Kalau ga bisa? ya ga apa-apa, wajar. Karena rentang konsentrasi anak itu 2 sampai 3 kali usianya. Jadi anak usia empat tahun, normalnya bisa duduk tenang, fokus selama delapan sampai dua belas menit saja. Anak yang ga bisa duduk tenang bukan berarti anak itu memiliki kecerdasan kinestetik, mungkin ya memang sesuai dengan usianya saja. Anak-anak punya hak untuk bergerak. Katanya, hak otot untuk bergerak sama seperti hak anggota tubuh untuk bertasbih.
Belajar Melalu Permainan.
Hati-hati, belajar melalui permainan tidak sama dengan belajar sambil bermain. Apalagi sebagai seorang muslim, tidak direkomendasikan belajar sambil bermain. Karena kita perlu mengajarkan adab sebelum ilmu. Ketika akan belajar, anak perlu dilatih untuk duduk tenang, menyimak, diam. Kalau sudah bisa, baru dilatih untuk mencatat, dan lainnya. Belajar tidak sambil bermain.
Berbeda dengan belajar melalui permainan. Misalkan anak bermain balok. Dengan bermain balok, kognitifnya dapat, nuerasi pasti, motorik halus pasti, motorik kasar juga didapat jika baloknya berat misalnya.
Berpusat Pada Anak
Pengaturan di rumah untuk yang menjalankan homeschooling seharusnya berpusat pada anak. Tata letak perabot, penyimpanan barang-barang sebaiknya bisa membuat anak menjangkau apa yang dibutuhkannya, bisa mrapikannya sendiri jika telah selesai menggunakan, dan membuat anak menyadari sendiri kebutuhannya.
Pengaturan jadwal juga berpusat pada anak. Anak tidur jam berapa, bangun jam berapa, kapan makan, kapan bermain di luar, kapan belajar dan sebagainya.
Lingkungan yang Kondusif
Tidak sederhana, tapi perlu diusahakan. Anak-anak usia dini nalarnya baru bisa sebatas melihat, mencontoh, meniru, mengikuti. Bayangkan lingkungan seperti apa yang akan kita kenalkan ke anak, yang anak lihat, tiru, dan ikuti.
Kalau tidak kondusif, apakah bisa? Bisa, tapi perlu usaha lebih keras.
Menggunakan Pembelajaran Terpadu.
Anak usia dini sebaiknya belajar berdasarkan tema agar pembelajaran lebih bermakna dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Tidak harus selalu mengikuti tema yang disiapkan kurikulum pemerintah, tema sendiri seperti tema Ramadan, tema Idul Adha, dan sebagainya juga bisa.
Mengembangkan Berbagai Kecakapan Hidup
![]() |
Salah satu contoh sederhana kecakapan emosinya berkembang adalah misalkan ketika bundanya sedang sibuk di dapur, dia bertanya apakah ada yang bisa dibantu. Atau untuk anak yang lebih kecil misal tiga tahun, tiba-tiba peluk, tiba-tiba ambil sesuatu pengen bantuin.
Intinya adalah ajak dan dampingi mereka dalam keseharian kita. Mereka akan melihat bagaimana cara kita berbicara dengan orang lain, cara kita berjalan, cara kita membawa diri, atau cara kita mempersiapkan segala sesuatu.
Ada sebuah pepatah : Membayar di depan lebih mudah dari pada membayar di belakang. Caranya adalah kita harus mau berlelah-lelah mengajak anak-anakmelakukan apa yang kita lakukan sebagai seorang muslim. Ini juga menjadi saatnya kita re-parenting, bagaimana kita sebagai seorang muslim memberi contoh, mengajak, dan mengajari.
Menggunakan Berbagai Media Edukatif dan Sumber Belajar
Saat ini banyak sekali sumber belajar bertebaran di ruang digital. Pilih sesuai kebutuhan, jangan fomo ikut-ikutan. Penting juga untuk belajar langsung dari guru.
Dilaksanakan Secara Bertahap dan Berulang-ulang
Secara fitrah anak-anak usia dini akan mengulang-ulang melakukan apa yang dia suka dan ingin bisa. Misal jika anak suka sama satu buku, buku itu terus diulang minta dibacakan. Tubuhnya, otaknya jiwanya secara fitrah membutuhkan sesuatu itu dilakukan bertahap dan berulang-ulang agar dia mampu melakukannya dengan baik.
Aktif, Kreatif (Inovatif), Efektif, dan Menyenangkan.
Kita bisa mencari referensi kegiatan anak dengan kata kunci yang tepat, tapi pastikan kita memberi pijakan saat membersamai.
No comments:
Post a Comment