Assalamualaikum.
Akhir-akhir ini aku sedang banyak berkeluh kesah tentangbetapa lelahnya menjadi ibu homeschooler yang 24 jam bersama anak terus menerus. Lelah fisik tak seberapa tapi lelah psikis cukup terasa. Yang biasanya cukup terobati dengan jalan-jalan sore berdua suami, sekedar jajan siomay atau belanja kebutuhan rumah, kini itu menjadi kurang. Sepulang jalan-jalan, sampai di rumah lelahnya terasa lagi. Keadaan ini tentu sangat mempengaruhi mood-ku, bagaimana aku berbicara dan berekspresi terhadap anak-anak. Hari ini setelah subuh aku mendengarkan rekaman materi workshop PAUD yang ku ikuti, baru empat menit pertama aku langsung berlinang air mata.
Di awal kelas/workshop Bu Mierza selalu mengingatkan tentang niat, meluruskan niat, mengembalikan niat. Kata beliau tadi, homeschooling ini perjalanan yang tidak sederhana, capek banget. Orang lain yang memilih jalan sekolah formal juga capek, tapi ada jeda untuk tidak ketemu anak. Kita yang memilih HS, jangan lupa tujuan kita, jangan sampai kalimat-kalimat yang menjadi harapan berubah menjadi keluh kesah. Meluruskan kembai niat. Kelelahan yang sedang/akan kita jalani nanti adalah sesuatu hal yang lebih tinggi, lebih agung, bukan sekedar validasi dari masyarakat bahwa "nih,anakku homeschool lho", "lihat deh anakku begini dan begitu", bukan. Minta kemudahan kepada Allah agar dijauhkan dari perasaan-perasaan demikian. Tapi ingat...
"Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya" (H.R. Muslim no 1631)"Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak adalah hasil jerih payah orang tua." (HR. Abu Daud no. 3528, An-Nasa'i dalam Al-Kubra 4:4, 6043, Tirmidzi no. 1358, dan Ibnu Majah no 2290. Al-hafidz Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Niat bisa berubah-ubah, sebagaimana hati yang terbolak-balik. Selalu minta kepada Allah ntuk meluruskan niat kita menjalani pilihan yang lelah ini.
Ada sebuah komentar di kolom chat yang cukup menyentuh bagiku, ketika kami ditanya kenapa sih mau berlelah-lelah memilih jalan ini, ketika ada jalan lain yang lebih sederhana, lebih mudah. Jawaban beliau "Saya ingin ambil semua pahalanya, Bu. Saya ingin rakus dalam hal ini. Semoga mendatangkan kenikmata dan semoga Allah mudahkan."
Sekian dulu, wassalamualaikum.
No comments:
Post a Comment